Sejak gencatan senjata berlaku pada Oktober 2025, Israel telah 497 kali menyerang Gaza. Tidak ada konsekuensi atas pelanggaran itu.
Kantor berita Associated Press, Minggu (23/11/2025), melaporkan, serangan terbaru Israel di Gaza terjadi pada Sabtu. Kementerian Kesehatan Gaza menyebutkan, serangan itu menewaskan 24 orang dan melukai puluhan orang lainnya.
The New York Times memberitakan, serangan Israel bermula ketika Israel menuduh Hamas mengirim seorang pria bersenjata untuk menembaki tentara Israel yang ditempatkan di Gaza. Sebagai tanggapan, pasukan Israel menyerang Kota Gaza dan Nuseirat di Gaza tengah.
”Serangan di lingkungan Rimal, Kota Gaza, menewaskan 11 orang dan melukai lebih dari 20 warga Palestina,” ujar Rami Mhanna, Direktur Pelaksana Rumah Sakit Shifa, tempat para korban dirawat.
Sebuah serangan yang menargetkan rumah di dekat Rumah Sakit Al-Awda di Gaza tengah menewaskan sedikitnya tiga orang dan melukai 11 lainnya. Sementara serangan terhadap sebuah rumah di kamp Nuseirat di Gaza tengah menewaskan sedikitnya tujuh orang, termasuk seorang anak, dan melukai 16 lainnya.
Keterangan Rumah Sakit Al-Aqsa menyebutkan, serangan lain yang menargetkan sebuah rumah di Deir al-Balah di Gaza tengah menewaskan tiga orang, termasuk seorang perempuan.
Pemerintah Israel menyatakan, lima dari korban tewas akibat serangan pada Sabtu adalah ”anggota senior Hamas”. Israel tidak menyebutkan nama atau posisi mereka. Juru bicara Hamas tidak segera mengonfirmasi apakah ada pejuangnya yang tewas.
Pada Rabu (19/11/2025), Israel melancarkan gelombang serangan serupa setelah adanya laporan serangan terhadap pasukannya selama gencatan senjata. Menurut Pejabat Kesehatan Gaza, setidaknya 33 warga Palestina tewas dalam kurun waktu 12 jam pada Rabu dan Kamis, sebagian besar perempuan dan anak-anak.
Hamas dan Israel menyetujui gencatan senjata yang didukung AS pada pertengahan Oktober lalu. Gencatan senjata berarti menghentikan pertempuran yang telah berlangsung selama lebih dari dua tahun dan menewaskan puluhan ribu orang di Jalur Gaza.
Sebagai bagian dari gencatan senjata, Israel dan Hamas saling melepaskan sandera dan tahanan. Hamas diminta melucuti persenjataannya. Sementara Israel diminta menarik pasukannya. Israel memang menarik pasukannya, tetapi tetap menguasai sekitar separuh wilayah kantong itu.
Dalam periode gencatan senjata, meski Israel dan Hamas berkomitmen akan kesepakatan damai, keduanya saling tuduh melanggarnya. Hamas mengatakan, Israel berulang kali melanggar gencatan senjata dengan terus menyerang di Gaza.
Anggota Biro Politik Hamas, Izzat al-Risheq, meminta Amerika Serikat dan negara lain yang memfasilitasi gencatan senjata Gaza untuk bertindak. “Israel merekayasa alasan untuk menghindari kesepakatan dan kembali melancarkan perang. Israel melanggar setiap hari secara sistematis,” kata dia.
Sampai sekarang, tidak ada tindakan nyata terhadap Israel dari AS dan negara penjamin gencatan senjata. Sementara warga Gaza terus jadi sasaran kebrutalan Israel. ”Kami menyerukan kepada para mediator untuk segera campur tangan dan memberikan tekanan agar secepatnya menghentikan pelanggaran ini, sama seperti kami menyerukan kepada Pemerintah Amerika untuk menepati komitmennya,” ujarnya.
Al-Rishieq menyebut, media Israel dan AS juga menyebarkan kabar bohong. Kabar itu adalah Hamas mundur dari gencatan senjata.
Sementara militer Israel mengatakan, Hamas telah beberapa kali menembaki tentaranya. Tembakan itu memicu serangan balasan oleh Israel di seluruh wilayah Gaza.
Alhasil, dalam periode gencatan senjata ini kekerasan berulang kali berkobar. ”Serangan-serangan itu menewaskan lebih dari 300 warga Palestina, termasuk anak-anak, sejak gencatan senjata berlaku bulan lalu,” kata pejabat kesehatan Gaza.
Hamas juga menuduh Israel melanggar gencatan senjata dengan menolak membuka pelintasan perbatasan antara Mesir dan Gaza. Pembukaan perbatasan itu dijanjikan oleh para pejabat Israel sebagai bagian dari gencatan senjata.
Pemerintah Israel mengatakan akan mempertimbangkan hal itu berdasarkan apakah Hamas akan mengembalikan tiga jenazah sandera yang masih berada di Gaza. Sampai saat ini Israel menyebut Hamas belum melakukannya.
Saat Hamas-Israel saling serang, para mediator sedang berupaya memperkuat gencatan senjata di Gaza. Pada Senin pekan lalu, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) mengesahkan sebuah resolusi yang mengamanatkan pemerintahan transisi yang akan diawasi Presiden AS Donald Trump dan Pasukan Stabilisasi Internasional di Gaza.
Resolusi itu dirancang AS sebagai bagian dari rencana perdamaian 20 poin Trump. Resolusi didukung dengan suara 13-0, dengan Rusia dan China abstain dalam pemungutan suara.
Resolusi itu, merujuk Al Jazeera, membuka jalan bagi langkah-langkah krusial selanjutnya untuk gencatan senjata yang rapuh antara Israel dan Hamas. Resolusi juga memberikan gambaran kemungkinan jalan menuju negara Palestina merdeka di masa depan. Selain itu, resolusi juga menyerukan Pasukan Stabilisasi Internasional untuk memasuki, mendemiliterisasi, dan memerintah Gaza.
Dewan Keamanan PBB juga menyetujui cetak biru AS untuk pembentukan otoritas transisi yang akan diawasi oleh Trump, dan membayangkan kemungkinan jalan menuju negara Palestina merdeka di masa depan.
Sumber: kompas.id

