Lebih dari 700.000 orang berunjuk rasa di Filipina. Mereka memprotes skandal korupsi proyek pengendalian banjir.
Hingga Minggu (16/11/2025) sore waktu setempat, ada dua kelompok besar pengunjuk rasa. Protes yang diorganisasi Gereja Kristus di Rizal Park disebut diikuti 650.000 orang.
Sementara protes oleh kumpulan pensiunan aparat di Monumen Kekuatan Rakyat disebut dihadiri lebih dari 100.000 orang. Taksiran jumlah orang dikeluarkan oleh Kantor Pengendalian Risiko Bencana Manila.
Penjabat Kepala Kepolisian Filipina Jose Melencio Nartatez Jr mengatakan, 228.000 polisi disiapkan untuk mengamankan unjuk rasa INC. Pada Minggu, awalnya disiapkan hampir 17.000 polisi di sekitar Rizal Park. Nartatez memerintahkan aparat menerapkan toleransi maksimum.
Unjuk raja oleh jemaat Gereja Kristus atau INC dijadwalkan berlangsung sampai Selasa. Juru bicara INC, Edwil Zabala, unjuk rasa juga diikuti orang yang bukan jemaat gereja Protestan tersebut. Sebagian besar mengenakan pakaian putih dan membawa poster antikorupsi. Hingga Minggu siang, aksi berlangsung damai.
Ribuan anggota dan pendukung INC mulai berkumpul di Taman Rizal sejak pagi. Massa terus bertambah seiring matahari tenggelam.
Meski Filipina didominasi pemeluk Katolik, INC menjadi salah satu kelompok berpengaruh. Setiap pemilu, INC kerap didekati politisi yang mau mencari dukungan.
”Ini bukan untuk mencampuri politik, melainkan menunjukkan perasaan dan menyuarakan aspirasi sesama warga yang mengutuk perilaku bejat para pejabat pemerintah,” kata Zabala seperti dikutip Philstar.
Ia merujuk pada megakorupsi proyek pengendalian banjir. Diduga, setidaknya 2 miliar dollar AS dana proyek dikorupsi ratusan politisi, pejabat, dan konglomerat.
Sejumlah tokoh dan politisi menghadiri unjuk rasa INC. Salah satunya Senator Rodante Marcoleta yang terlibat dalam komisi Senat Filipina untuk penyelidikan korupsi proyek pengendalian banjir.
Sejauh ini, orang-orang yang diduga terlibat dan akan jadi tersangka termasuk bekas Ketua DPR Filipina Martin Romualdez. Ia sepupu Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr dan keponakan Imelda Marcos.
Beberapa waktu lalu, karena disebut terlibat korupsi proyek banjir, Romualdez mengundurkan diri sebagai Ketua DPR. Presiden Marcos telah mengatakan, penyelidikan kasus itu tidak akan tebang pilih. Semua yang terlibat akan dijerat.
Penjabat Sekretaris Presidential Communications Office (PCO) Dave Gomez mengatakan Marcos memonitor perkembangan. ”Ya, Presiden memantau hari ini,” ujar Gomez seperti dikutip Philippine News Agency
Meski demikian, Istana presiden dikunci sepanjang akhir pekan. Jalan menuju kompleks dibarikade kontainer kargo, kawat berduri, dan pasukan antihuru-hara.
Langkah ini diambil setelah kejadian unjuk rasa 21 September 2025. Dalam unjuk rasa itu, ratusan demonstran berpakaian hitam melempari polisi dengan batu, botol, dan bom molotov di dekat istana presiden. Lebih dari 100 polisi terluka. Sebanyak 97 demonstran diadili secara pidana.
Proyek mangkrak
Skandal proyek banjir memicu kemarahan luas. Penyelidikan menemukan ribuan proyek pengendalian banjir yang di bawah standar. Beberapa tidak juga selesai. Bahkan, sejumlah proyek kemudian mangkrak.
Sidang Senat dan komisi pencari fakta mengungkap adanya anggota Kongres dan pejabat Departemen Pekerjaan Umum dan Jalan Raya (DPWH) Filipina yang menerima suap. Suap itu untuk memenangi kontrak banjir dan menghindari pemeriksaan.
Temuan itu terungkap dari kesaksian para insinyur pemerintah, pejabat Departemen Pekerjaan Umum dan Jalan Raya (DPWH) Filipina, serta eksekutif perusahaan konstruksi yang terlibat proyek. Sebagian besar tertuduh membantah tuduhan itu.
Kemarahan publik membesar setelah Filipina dihantam badai mematikan. Dua topan yang melanda bulan ini menewaskan 259 orang. Banyak korban akibat banjir bandang dan longsor. Jutaan warga mengungsi.
Marcos menjanjikan tindakan tegas. Ia mengatakan banyak senator, anggota Kongres, dan pengusaha kaya yang diduga terlibat akan masuk penjara sebelum Natal.
Komisi independen yang dibentuknya telah mengajukan gugatan pidana terhadap 132 orang. Sebanyak 37 tersangka dalam kasus korupsi dan penjarahan atau korupsi berat. Adapun 86 orang adalah eksekutif perusahaan konstruksi. Adapun sembilan pejabat pemerintah terkait penghindaran pajak hampir 9 miliar peso (sekitar Rp 2,55 triliun).
Sejumlah tokoh yang yang disebut, antara lain, mantan Ketua DPR Filipina Martin Romualdez yang juga sepupu Presiden Marcos, mantan presiden senat Filipina Chiz Escudero, dan Senator Bong Go yang merupakan sekutu dekat mantan Presiden Rodrigo Duterte. Ketiganya membantah tuduhan.
Ketegangan politik menguat
Wakil Presiden Filipina Sara Duterte mengatakan, Marcos juga harus dipenjara. Sebab, Marcos menyetujui anggaran 2025 yang mengalokasikan miliaran peso untuk proyek banjir. Beberapa pendukung Duterte menyerukan agar militer menarik dukungan dari Marcos.
Namun, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Filipina Jenderal Romeo Brawner Jr menolak seruan itu. ”Angkatan bersenjata tidak akan melakukan tindakan yang melanggar konstitusi. Tidak hari ini, tidak besok, dan tentu tidak di bawah kepemimpinan saya,” ujarnya.
Ayah Wapres, mantan Presiden Filipina Rodrigo Duterte, kini ditahan oleh Mahkamah Pidana Internasional (ICC) di Belanda. Ia dituduh atas dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan berupa pembunuhan warga sipil. Hal ini melalui kebijakan ”perang narkoba” yang dianggap sebagai serangan sistematis terhadap populasi sipil.
Ia dinilai bertanggung jawab karena kebijakan itu mendorong dan membiarkan pembunuhan di luar proses hukum oleh aparat maupun kelompok terkait negara.
Bentrokan di Meksiko
Pada saat bersamaan, di Mexico City, Lebih dari 100 orang terluka dan 20 lainnya ditangkap dalam unjuk rasa besar di Mexico City. Unjuk rasa yang digelar Sabtu waktu setempat itu memprotes penanganan pemerintah terhadap tingginya angka kejahatan.
Ribuan warga turun ke jalan menuju alun-alun utama bersejarah ibu kota, Zocalo. Publik menyerukan kemarahan atas meningkatnya kekerasan dan kriminalitas.
Aksi ini banyak diikuti anak muda yang terhubung dengan gelombang protes Generasi Z di berbagai negara. Aksi juga diikuti para pendukung Gerakan Sombrero.
Gerakan Sombrero muncul setelah pembunuhan brutal terhadap Carlos Manzo, seorang wali kota di negara bagian Michoacan. Michoacan yang tewas 1 November 2025 itu dikenal lantang melawan organisasi kriminal di Meksiko. Ia dikenal karena perjuangannya melawan kartel narkoba di kota Uruapan.
Meski dimotori Gen Z, peserta aksi mencakup berbagai kelompok usia, termasuk generasi yang lebih tua dan para tokoh politik. Mereka berkumpul di depan Istana Nasional Meksiko, tempat Presiden Claudia Sheinbaum tinggal dan bekerja.
Beberapa pengunjuk rasa yang mengenakan topeng merobohkan barikade logam yang melindungi istana. Mereka juga melemparkan batu trotoar ke arah polisi antihuru-hara. Aparat merespons dengan gas air mata.
”Selama berjam-jam, mobilisasi ini berlangsung dan berkembang secara damai, sampai sekelompok individu berkerudung mulai melakukan tindakan kekerasan,” ujar Kepala Keamanan Mexico City, Pablo Vazquez.
Vazquez mengatakan 20 peserta aksi dan 100 polisi terluka. Sekitar 40 polisi dibawa ke rumah sakit karena luka sayat dan memar. Polisi juga menahan 20 orang atas dugaan pencurian dan penyerangan.
Ia menambahkan bahwa pihak berwenang telah membuka penyelidikan atas pemukulan seorang jurnalis surat kabar La Jornada, yang menurut media tersebut dilakukan oleh polisi.
Sheinbaum, yang menjabat sejak Oktober 2024, sebelumnya populer dengan tingkat persetujuan publik di atas 70 persen. Akan tetapi, ia kini menghadapi hujan kritik atas kebijakan keamanannya. Hal ini setelah beberapa pembunuhan tokoh publik yang lantang melawan kartel narkoba.
”Ini salah satu pemerintahan paling korup yang pernah kami miliki,” kata mahasiswa Valentina Ramirez. ”Ini pemerintah narko-korup yang ingin membela para koruptor dan kartel, bukannya rakyat,” katanya geram.
Banyak pengunjuk rasa mengenakan sombrero seperti yang kerap dipakai Manzo. Istri mendiang Manzo menegaskan bahwa pendukung suaminya tidak terkait dengan demonstrasi tersebut.
Selain Manzo, tokoh lokal lain, Bernardo Bravo, pemimpin produsen jeruk nipis di wilayah yang sama, juga ditembak mati pada akhir Oktober.
Pada konferensi pers mingguan, Presiden Sheinbaum menuduh motif di balik protes tersebut. Ia menyebut demonstrasi itu tak organik. Ia juga menuduh gerakan itu sebagai demo bayaran. ”Ini sebuah gerakan yang dipromosikan dari luar negeri untuk melawan pemerintah,” katanya.
Di tengah massa, para pengunjuk rasa membawa poster bertuliskan ”Kami adalah Carlos Manzo”. Mereka juga membawa bendera bajak laut dari manga Jepang, One Piece. Simbol ini telah digunakan di berbagai unjuk rasa anak muda di dunia, mulai dari Madagaskar, Filipina, hingga Peru. ”Kalian seharusnya melindungi Carlos Manzo seperti ini!” kata peserta aksi ke polisi.
Aparat menanggapi kerumunan dengan menggunakan pemadam api dan gas air mata.
Sumber: kompas.id

