Pembukaan Musyawarah wilayah ke IV AMAN Sulsel di awali dengan Pawai Budaya Dari berbagai Komunitas Masyarakat Adat di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Suasana hangat dan penuh semangat menyelimuti Komunitas Masyarakat Adat Bulutana, Kabupaten Gowa, sebagai Tempat Lokasi Muswil IV AMAN Sulsel, perwakilan komunitas Masyarakat adat dari berbagai wilayah di Sulawesi Selatan dan Barat berkumpul untuk Melaksanakan Musyawarah Wilayah (Muswil) ke-4 Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Sulawesi Selatan).
Muswil yang berlangsung pada 28–30 September 2025 ini menjadi ruang penting bagi Masyarakat Adat di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat untuk memperkuat arah gerakan, mempertegas komitmen perjuangan, serta merumuskan strategi bersama dalam memperjuangkan pengakuan dan perlindungan hak-hak Masyarakat Adat di tingkat daerah maupun nasional.
Dengan mengusung tema “Memperkuat Identitas dan Aksi Kolaborasi untuk Masyarakat Adat yang Berdaulat, Mandiri, dan Bermartabat,” kegiatan ini menandai langkah baru gerakan Masyarakat Adat di Sulawesi Selatan dan Sulawesi barat untuk terus mengokohkan identitas dan memperluas jejaring kolaborasi dalam memperjuangkan hak-hak kolektif atas wilayah adat, sumber daya alam, dan sistem pengetahuan tradisional yang diwariskan leluhur.
Muswil IV AMAN Sulsel dihadiri oleh perwakilan komunitas adat dari seluruh wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, para tokoh adat, serta perwakilan Pengurus daerah di sulawesi selatan dan sulawesi barat dan Pengurus Besar AMAN. Pembukaan kegiatan ditandai dengan tarian pakarena sebagai bentuk penghormatan, dan penyambutan tamu dan juga penegasan nilai-nilai kearifan lokal sebagai dasar perjuangan Masyarakat Adat.
Dalam sambutannya, Sekretaris Jenderal AMAN, Rukka Sombolinggi, menyampaikan bahwa Masyarakat Adat memegang peranan penting dalam menjaga keseimbangan bumi dan menghadapi ancaman perubahan iklim.
“Masyarakat Adat adalah tonggak penyelamat dunia di tengah perubahan iklim. Pengetahuan tradisional leluhur mengajarkan kita untuk menjaga keseimbangan antara manusia dan bumi. Dari hutan, tanah, hingga air — semuanya memiliki roh kehidupan yang harus dihormati,” ujar Rukka di hadapan peserta Muswil.
Rukka menegaskan bahwa gerakan Masyarakat Adat bukan hanya perjuangan identitas, tetapi juga perjuangan untuk menyelamatkan masa depan umat manusia dari krisis ekologis yang semakin nyata.
Sementara itu, Ketua Pengurus Wilayah AMAN Sulawesi Selatan, Risaldi Rasak, menekankan pentingnya pengakuan hukum bagi Masyarakat Adat sebagai landasan untuk memperkuat kedaulatan dan martabat mereka.
“Sudah saatnya negara benar-benar mengakui Masyarakat Adat sebagai subjek hukum yang sah. Tanpa pengakuan hukum, hak-hak Masyarakat Adat akan terus terancam oleh kebijakan yang tidak berpihak. Pengakuan ini adalah pintu menuju kedaulatan dan keadilan,” tegas Risaldi.
Risaldi menambahkan bahwa Muswil kali ini menjadi momentum untuk memperkuat konsolidasi gerakan dan memastikan bahwa Masyarakat Adat di Sulawesi Selatan tidak hanya diakui secara kultural, tetapi juga secara hukum dan politik.
Muswil IV AMAN Sulawesi Selatan ini diharapkan dapat melahirkan keputusan-keputusan strategis untuk memperkuat kelembagaan, memperluas advokasi kebijakan, serta mendorong partisipasi aktif komunitas adat dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, eksploitasi sumber daya, dan marjinalisasi sosial.
Dengan semangat kebersamaan, AMAN Sulsel terus melangkah, membawa pesan dari leluhur bahwa menjaga bumi adalah panggilan adat — dan memperjuangkan hak Masyarakat Adat adalah jalan menuju kemandirian dan martabat bersama.

