Timor Leste resmi bergabung dengan Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara atau ASEAN. Bergabungnya Dili membuat komitmen ASEAN dan Indonesia memperluat kawasan harus dibuktikan.
Masuknya Timor Leste di ASEAN berlangsung pada upacara pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi Ke-47 ASEAN di Kuala Lumpur, Malaysia, Minggu (26/10/2025). Peresmian keanggotaan itu mengakhiri penantian Timor Leste selama 14 tahun.
Presiden Timor Leste Jose Ramos Horta, ketika datang ke Sektetariat ASEAN di Jakarta pada Agustus 2025, mengatakan, masuk ASEAN bahkan lebih sulit daripada masuk surga. Persyaratan yang harus dipenuhi begitu banyak.
”Sejak merdeka, Timor Leste memiliki hubungan akrab dengan negara-negara tetangga di Asia Tenggara. Masuknya kita ke ASEAN mengonfirmasi komitmen Timor Leste menjaga kedamaian, kesejahteraan, dan kesatuan kawasan,” kata keterangan resmi Dili yang dikutip harian Timor-Leste Times.
Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao mengatakan, menjadi anggota ASEAN berarti bekerja sama setara dan bahu-membahu menghadapi segala tantangan di kawasan. Asia Tenggara harus dibangun menjadi kawasan yang makmur, inklusif, dan berdaya tahan.
”Timor Leste antusias siap memberi sumbangsih kepada ASEAN. Bersama, kita merawat pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial, dan perkembangan peradaban,” kata Xanana.
Komitmen Indonesia
Indonesia adalah negara yang sejak awal mendukung niat Timor Leste bergabung dengan ASEAN. Bagi Jakarta dan Dili, terlepas dari masih banyak trauma dan persoalan sejarah yang harus diselesaikan, kedua bangsa bisa bermitra dengan itikad baik.
Awalnya, beberapa anggota ASEAN skeptis dengan keseriusan dan kesiapan Timor Leste menjadi anggota ASEAN. Akan tetapi, Indonesia berkerja sama dengan Timor Leste mengembangkan kapasitas supaya Timor Leste bisa memenuhi persyaratan masuk ASEAN.
Menurut indeks demokrasi yang disusun Freedom House 2024, Timor Leste memperoleh nilai 72. Negara ini memiliki kebebasan politik dan hak sipil yang tinggi. Indonesia justru mendapat nilai rendah, yakni 57, karena ada kecondongan kembali kepada otoritarianisme.
”Masuknya Timor Leste ke ASEAN patut dirayakan. ASEAN benar-benar melaksanakan komitmen geografis untuk memasukkan semua negara di kawasan Asia Tenggara,” kata Khanisa Krisman, peneliti isu ASEAN di Badan Riset dan Inovasi Nasional di Jakarta, Minggu (26/10/2025).
Menurut dia, ASEAN menghadapi tugas besar untuk meratakan pembangunan di kawasan. Setiap anggota ASEAN memiliki kesenjangan di bidang-bidang tertentu. Misalnya, di Timor Leste masih ada persoalan ekonomi. Ini semestinya memotivasi kerja sama intra-ASEAN.
Bagi Indonesia, komitmen kepada kawasan kian diuji. Presiden Prabowo Subianto aktif melawat ke luar negeri. Akan tetapi, perhatian kepada ASEAN yang merupakan rumah sendiri justru oleh para pengamat dinilai kurang.
Ketika Prabowo batu dilantik, negara pertama yang ia kunjungi adalah China. Padahal, tradisi setiap kepala negara dan kepala pemerintahan di ASEAN ialah melawat ke negara-negara ASEAN sebagai bukti komitmen kepada keluarga Asia Tenggara.
”Jangan sampai ketika visi regionalisme tercapai melalui bergabungnya Timor Leste, praktik semangat regionalisme ASEAN malah meredup,” kata Khanisa.
Multilateralisme
ASEAN adalah kawasan dengan kedamaian dan kestabilan paling ajek di dunia. Asia Tenggara juga kawasan dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat. Dewan Komunitas Ekonomi ASEAN mengatakan, pada 2025, pertumbuhannya 4,7 persen. Uni Eropa saja hanya 1,2 persen.
Selain itu, ASEAN adalah organisasi multilateral yang penting. Presiden Brasil Inacio Lula Da Silva, ketika berpidato di sesi debat umum Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, 23 September 2025, mengakui sumbangsih ASEAN.
”Hanya melalui multilateralisme kita mencegah hukum rimba mendominasi dunia. Organisasi-organisasi multilateral harus diperkuat,” kata Lula.
Bahkan, Prabowo di ajang yang sama mengatakan bahwa hanya karena suatu negara adidaya, ia tidak boleh seenaknya berbuat. Aturan internasional wajib ditaati. Aturan itu dibuat berdasarkan prinsip multilateral.
Semangat itu turut dibawa di KTT ASEAN Kuala Lumpur. Para pemimpin negara mitra wicara mulai berdatangan. Salah satunya ialah Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Ia akan melakukan pertemuan bilateral dengan PM Malaysia Anwar Ibrahim dan setelah itu PM Thailand Anutin Charnvirakul. Trump menyaksikan penandatanganan perjanjian damai antara Thailand dan Kamboja setelah sengketa perbatasan yang mengakibatkan 33 orang tewas dan 138.000 orang mengungsi.
Di samping itu, Trump juga akan bertemu Presiden China Xi Jinping. Mereka hendak membicarakan perang dagang antara kedua negara. Baik Washington maupun Beijing menerapkan tarif impor balasan di atas 100 persen terhadap satu sama lain. Ini mengganggu kestabilan perekonomian global.
Bagi ASEAN, perang dagang ini berisiko menjepit pertumbuhan negara-negara anggota. ASEAN harus melakukan manuver diplomasi ekstralincah supaya tidak harus memilih berpihak kepada AS atau China.
Pemimpin lain yang datang ialah Sanae Takaichi, perempuan pertama PM Jepang yang baru dilantik pada 20 Oktober lalu. Ia akan mengikuti pertemuan ASEAN Plus Tiga, yaitu ditambah China dan Jepang. Juga ada Forum Asia Timur (East Asia Forum) tempat semua negara mitra wicara ASEAN, termasul Korea Utara, rapat.
Sama seperti tiga tahun sebelumnya, di KTT ASWAN Kuala Lumpur pemimpin junta Myanmar, Jenderal Senior Min Aung Hlaing tidak diundang. Myanmar diwakili perwakilan tetapnya untuk ASEAN.
Sumber: Kompas.id

