Kepolisian Paris, Perancis, menangkap dua terduga pelaku pencurian perhiasan di Museum Louvre. Pencurian perhiasan dari zaman kekaisaran Dinasti Napoleon itu merugikan Perancis sebesar 88 juta euro atau Rp 1,69 triliun.
Melansir harian Le Parisien, Minggu (27/10/2025), polisi menangkap dua terduga pelaku. Pencurian pada 19 Oktober pagi itu melibatkan empat maling.
Satu terduga pelaku dibekuk di Bandara Internasional Charles de Gaulle. Ia baru mau berangkat ke luar negeri. Satu orang lagi ditangkap di Seine-Saint-Denis, daerah di sebelah utara Paris.
Menurut keterangan Jaksa Wilayah Paris Laure Buccuau, ada 100 petugas penyelidik yang terjun menangani kasus pembobolan Museum Louvre. Empat maling itu beraksi di museum terbesar dan teramai di dunia itu hanya dalam waktu tujuh menit.
:quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2025/10/25/5d65b1313e0bc9519458db9e468df0ad-wires_photo_33.jpg)
Mereka memanfaatkan tata ruang Louvre yang rumit dan minim kamera pemantau. Keempatnya memecahkan kaca Galeri Apollo di lantai dua setelah memanjat dengan menggunakan mobil derek. Pelaku menyamar sebagai tukang bangunan yang mengerjakan pemugaran sayap lain di museum.
Begitu sampai di Galleri Apollo, mereka memecahkan etalase kaca yang memamerkan perhiasan Permaisuri Hortensia, Permaisuri Maria-Amalia, dan Permaisuri Euginie dari era Kekaisaran Napoleon (1804-1870). Ada delapan perhiasan yang diangkut.
Alarm berbunyi tiga menit setelah etalase dipecahkan. Empat menit kemudian atau di menit kedelapan sejak para maling masuk Galeri Apollo, mereka meloncat ke luar dan kabur dengan menaiki dua sepeda motor.
Pengamanan
Menteri Dalam Negeri Perancis Laurent Nunez, dikutip oleh France24, mengakui, sistem keamanan di Museum Louvre banyak kelemahan. Museum itu terdiri dari lima tingkat dan 400 ruangan dengan 30.000 obyek yang dipamerkan secara berotasi dan 500.000 obyek di dalam brankas.
Tata ruang Louvre yang berbelit-belit karena terus bertumbuh sejak dibangun pada abad ke-12 membuatnya susah diamankan. Walaupun ada kamera pengawas, lekuk interior ruangan tetap membuat terdapat banyak titik buta.
Para pemimpin partai oposisi pemerintah mengkritik, bobolnya Louvre ini memalukan. Ini penghinaan Perancis di mata dunia, apalagi jika pelakunya berasal dari dalam negeri. Mereka mengatakan, tidak masuk akal dengan fakta Louvre sebagai museum teramai di dunia pengamanannya payah.
Museum Louvre adalah magnet pariwisata terbesar di Perancis. Kisaran pendapatannya setiap tahun 200 juta-250 juta euro.
:quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2025/10/19/6b5e253df9d7dbe47e4e717ad37b06f0-France_Louvre_133449792.jpg)
Perkiraannya, seluruh koleksi di museum itu bernilai 35 miliar euro. Akan tetapi, para sejarawan, budayawan, dan arkeolog berpendapat, nilai intrinsik obyek-obyek di Louvre melebihi nilai nominalnya.
Christopher Marinello, pakar pencarian karya seni yang hilang atau dicuri, menduga, perhiasan-perhiasan itu tidak akan kembali. Kemungkinan besar benda-benda itu dipereteli permatanya dan dijual secara satuan.
Benda seni, misalnya lukisan dan patung, berharga karena keutuhannya. ”Berbeda dengan perhiasan karena tanpa bentuk aslinya pun bisa dijual dengan keuntungan besar,” ujarnya kepada BBC.
Menurut Marinello, jika dalam 48 jam setelah kejadian perhiasan yang dicuri tidak ditemukan, berarti hilang selamanya. Komplotan maling dipastikan sudah menjualnya ke pasar gelap.
Kepada media ABC, Menteri Kebudayaan Perancis Rachida Dati menuturkan, aksi pencurian itu sederhana, tetapi efektif. Kasus-kasus pencurian di museum, galeri, maupun butik mahal hingga kini tetap memakai metode analog yang memanfaatkan celah waktu.
Pencurian lagi
Pada hari yang sama dengan Louvre kemalingan, Maison des Lumieres di Langres juga kebobolan. Parahnya, kecolongan itu baru disadari dua hari kemudian, yaitu pada 21 Oktober.
Melansir USA Today, Maison des Lumieres adalah museum untuk mengenang pemikiran dan karya filsuf Denis Diderot (1713-1784). Pencuri masuk ketika museum ditutup pada Minggu dan Senin.
:quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2025/10/24/9ebc68faaa72f54efcf7cffc4a98027b-wires_photo_39.jpg)
Hari Selasa ketika museum dibuka, petugas menemukan etalase yang pecah. Maling menggondol 2.000 keping koin emas dan perak dengan nilai total 90.000 euro.
Menurut keterangan polisi, pencurian itu dilakukan oleh maling yang teliti dan mahir. Belum ada keterangan pencurian ini berkaitan dengan kasus di Louvre. Mirip dengan Louvre, gedung antik Maison des Lumieres juga banyak titik buta dari kamera pemantau.
Di Louvre, pengelola museum memutuskan memindahkan koleksi perhiasan dari etalase di Galeri Apollo ke Banque de France atau bank nasional. Sisa perhiasan yang tidak bisa disimpan di bank dikunci di brankas museum. Brankas ini berada di kedalaman 26 meter di bawah tanah. (AFP)
Sumber: Kompas.id

