Buat Jemaah Haji, Jangan Tukar atau Tinggalkan Gelang Identitas Selama di Saudi

Jemaah haji Indonesia akan mendapat sejumlah fasilitas sejak di asrama haji sebelum berangkat ke tanah suci. Salah satu yang penting untuk dijaga oleh setiap jemaah, yakni gelang identitas.

Gelang ini bukan gelang biasa. Isinya identitas jemaah mulai nama, kloter hingga nomor paspor.

Dalam keadaan baik-baik saja, gelang ini memang terlihat seperti hanya aksesoris saja. Tapi, ketika ada hal yang tak wajar, gelang ini memegang peran penting.

Sebut saja, saat jemaah tersesat, lupa jalan pulang, atau malah mengalami kecelakaan. Yang paling sering dialami, yakni jemaah tersesat.

Ini sering dialami oleh jemaah lansia. Terlebih, tahun ini jemaah lansia mencapai 67 ribu orang dari total kuota 221 ribu jemaah.

Petugas bisa dengan mudah mengidentifikasi jemaah dari gelangnya. Ini juga sudah terjadi pada jemaah haji 2023 yang baru sampai Madinah.

Mazkur bin Main tersesat dan lupa jalan pulang ke hotel setelah kembali dari Masjid Nabawi. Saking senangnya bisa menginjakkan diri ke tanah suci, Mazkur tak sempat mengamati hotel dan kawasan sekitarnya.

Sepulangnya, dari Masjid Nabawi dia tak ingat jalan kembali ke hotel. Beruntung Mazkur bertemu dengan petugas.

Petugas langsung melihat gelang yang dipakai Mazkur. Dari situ diketahui, Mazkur diketahui berasal dari kloter JKG 01. Petugas lalu mengecek lokasi hotel JKG 01 dan diketahui kalau itu adalah Hotel Grand Plaza Badr Almaqam yang terletak di Sektor 1. Petugas selanjutnya mengantar Mazkur bin Main ke hotelnya hingga bertemu petugas lainnya.

Subhan yang sedang berada di Grand Plaza Badr Almaqam mengatakan, pengalaman Mazkur sangat berarti bagi jemaah dan petugas. Ini menunjukkan gelang identitas sangat penting.

“Pengalaman Pak Mazkur, mengajarkan kepada kita tentang pentingnya jemaah mengenakan gelang identitas yang dibagikan saat masuk asrama haji,” ujar Subhan Cholid.

Subhan mengatakan, gelang identitas sangat penting bagi jemaah dan petugas selama penyelenggaraan ibadah haji. Sejumlah kejadian besar dapat ditangani karena adanya gelang identitas itu.

“Dan ini terbukti pada kejadian tahun 2015, saat peristiwa Mina dan kecelakaan crane, kita temukan orangnya dalam keadaan meninggal, dan bisa diidentifikasi melalui gelangnya,” sebut Subhan.

Lalu pada tahun 2012, ada jemaah haji Indonesia terpisah dari rombongannya dan ternyata ditemukan di Gunung Uhud dalam keadaan meninggal. Saat itu sudah sulit diidentifikasi jasadnya. Gelang yang dikenakannya menjadi petunjuk sehingga diketahui identitasnya.

“Mohon jangan ditukar selama masih di Tanah Suci. Sebab ada data pribadi. Sehingga jangan diberikan kepada orang lain dan jangan ditukar. Gelang ini juga bisa jadi kenang-kenangan seumur hidup,” tandasnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *