Komentar Fabregas Usai Skor Como vs Leipzig 4-1 di Liga Champions

Pelatih Como 1907, Cesc Fabregas, menolak untuk larut dalam euforia meski tim asuhannya baru saja mencatatkan debut impian di Liga Champions dengan membantai RB Leipzig 4-1, Kamis (10/9) malam waktu setempat. Juru taktik asal Spanyol itu menegaskan bahwa skuadnya harus segera membumi dan menjaga mentalitas untuk bertanding setiap tiga hari sekali.

Kemenangan bersejarah di Stadio Giuseppe Sinigaglia yang baru direnovasi ini diwarnai oleh gol-gol dari Martin Baturina, Tasos Douvikas, Assane Diao, dan pemain pengganti Maxi Perrone. Menariknya, Como menjadi satu-satunya tim asal Italia yang berhasil meraih kemenangan pada Matchday 1 Liga Champions musim ini.

Meski sukses menorehkan tinta emas, Fabregas langsung memberikan peringatan keras kepada anak asuhnya agar tidak cepat berpuas diri.

“Saya senang, tetapi rasa bahagia ini hanya akan bertahan selama lima menit, karena setelah ini kami harus bersiap menghadapi Parma pada hari Senin. Kami membutuhkan energi yang sama persis seperti malam ini,” ungkap Fabregas kepada Sky Sport Italia.

Fabregas menyadari betul besarnya makna kemenangan ini bagi penduduk kota dan sejarah klub. Namun, ia menekankan bahwa kompetisi domestik tidak boleh dikesampingkan.

“Ini adalah hadiah yang pantas kami dapatkan atas kerja keras luar biasa musim lalu, tetapi Serie A tetap menjadi target terpenting. Bagaimanapun juga, Serie A-lah yang memungkinkan Anda untuk bisa kembali bermain di Liga Champions,” urainya.

“Kami adalah tim muda, kami mendapat dorongan dari energi Liga Champions, tetapi saya akan sangat marah jika setelah ini kami tidak memberikan segalanya di Serie A. Kami harus rendah hati dan mampu tampil maksimal setiap tiga hari. Ini akan menjadi musim yang sangat berat,” tegas mantan pemain Arsenal dan Chelsea tersebut.

Taktik Bunglon dan Kepercayaan pada Pemain

Di balik kemenangan telak tersebut, Fabregas sempat terlihat meneriaki Martin Baturina dari pinggir lapangan, meski sang pemain sukses mencetak satu gol dan satu assist. Fabregas menjelaskan bahwa hal itu dilakukannya semata-mata untuk memotivasi.

“Saya memercayai Martin dan memberinya kebebasan untuk menemukan ruang berkat bakatnya. Kapan pun saya berteriak dari pinggir lapangan kepada pemain saya, itu selalu karena mereka memiliki bakat dan saya hanya perlu memberi mereka dorongan energi ekstra,” jelasnya.

Laga ini juga menjadi kemenangan ketiga beruntun Como usai menekuk Napoli dan Genoa. Dalam dua laga terakhir, Fabregas menerapkan taktik “bunglon” dengan beralih ke formasi lima bek di pertengahan babak kedua untuk mengontrol permainan.

“Anda ingin menjadi tim yang dominan, tapi itu juga berarti harus bisa mengontrol situasi. Hari ini setelah unggul 3-0, Leipzig mengubah sistem mereka dengan menekan dari sayap dan bermain lebih mengandalkan fisik. Kami sedikit kelelahan, jadi saya lebih memilih untuk mengontrol situasi. Ini level Liga Champions, jika mereka mencetak gol jadi 3-1, laga belum usai,” kata Fabregas.

Masih Butuh Waktu Beradaptasi

Meski berstatus sebagai kuda hitam yang mengejutkan, Fabregas menyadari timnya masih jauh dari kata sempurna, terutama dalam mengintegrasikan pemain baru yang direkrut pada bursa transfer musim panas, termasuk striker Moise Kean dan pemain muda Kaiki.

“Saya pikir kami masih dalam proses pengerjaan. Kami memiliki banyak pemain baru seperti Kaiki dan Moise Kean yang baru saja tiba, dan mereka masih sedikit kebingungan dalam beberapa pergerakan kami. Ada sekitar sembilan pemain baru, butuh waktu untuk membuat mereka semua berada dalam performa puncak,” tutupnya.

Sumber: Inilah.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *