Kebakaran hebat melanda Bukit Bulu’ Saukang di Maros, Sulawesi Selatan. Kebakaran ini menghanguskan area di bukit yang populer di kalangan pendaki. Ratusan orang dievakuasi, tiga di antaranya mengalami cedera dan sesak napas.
Sejak Minggu (6/9/2026) malam, kebakaran mulai melanda jalur pendakian Bukit Bulu’ Saukang. Api yang merambat dengan cepat menghanguskan kawasan dari pos tiga hingga pos lima di jalur pendakian bukit setinggi sekitar 300 meter tersebut.
Komandan Tim SAR Makassar Dadang menuturkan, pihaknya menerima laporan adanya kebakaran yang membuat sejumlah pendaki terjebak. Sebanyak 20 personel diturunkan untuk membantu proses melakukan evakuasi dan penyelamatan.
”Bersama tim SAR gabungan, kami mencari dan mengevakuasi. Ada tiga perempuan pendaki yang ditemukan cedera dan segera dibawa turun,” kata Dadang.
Ratusan pendaki, menurut dia, telah diimbau untuk turun dan melakukan evakuasi bersama. Sebab, api membakar bukit dengan luasan yang terus bertambah. Tim memastikan tidak ada pendaki yang masih terjebak dalam kebakaran tersebut.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencanca Daerah (BPBD) Maros Towadeng menyampaikan, hingga Senin (7/9/2026) pagi, kebakaran di Bulu’ Saukang masih dalam pemantauan tim gabungan. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api di lokasi yang sama.
Berdasarkan pemantauan sementara, kebakaran menghanguskan area lahan dan hutan di kawasan tersebut. ”Tim sementara memetakan, tetapi luasannya saya kira tidak sampai puluhan hektar. Alhamdulillah, semua pendaki selamat berdasarkan informasi yang kami terima,” tuturnya.
Kebakaran hutan menjadi ancaman serius bagi wilayah Maros di tengah kondisi cuaca seperti saat ini. Sumber api bisa berasal dari aktivitas manusia, seperti puntung rokok dan sisa pembakaran, ataupun kondisi cuaca yang terik.
Oleh karena itu, untuk mengantisipasi kebakaran lanjutan, ia menerangkan, Pemerintah Kabupaten Maros telah membentuk tim gabungan yang bersiaga penuh. Tim ini bekerja sama dengan berbagai instansi untuk segera bertindak saat kebakaran kembali melanda kawasan tersebut.
”Ada dua hal yang kami tangani saat ini, yaitu siaga bencana karhutla dan bencana kekeringan. Seperti kita tahu, musim kemarau membuat sumber air mengering dan berdampak pada warga, khususnya di pesisir,” terangnya.
Kebakaran gunung dan hutan terus terjadi di wilayah Sulawesi Selatan. Hingga Rabu (2/9/2026), misalnya, api masih berkobar di Gunung Lakawan, Enrekang, Sulawesi Selatan. Suhu tinggi dan angin yang bertiup kencang membuat warga diliputi kekhawatiran api akan cepat menjalar ke permukiman.
Kepala Pelaksana BPBD Enrekang Syamsul Bahri yang dihubungi mengatakan, api masih terus berkobar. Sejak Senin malam hingga Rabu sore, api sudah menghanguskan lebih dari 70 hektar lahan. Dengan kondisi panas dan angin yang bertiup kencang, kobaran api kini lebih cepat menyebar. Luasan area yang terbakar diperkirakan terus bertambah.
”Kami terkendala medan yang sulit karena gunung ini berbatu dan juga banyak alang-alang. Banyak batuan yang jatuh, dan kami khawatir pemadaman ke atas gunung bisa sangat berisiko terhadap keselamatan petugas,” katanya.
Sumber: Kompas.id

