Lebih dari 100 hektare sawah di Desa Bontosunggu, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, terdampak kekeringan.
Sebagian tanaman padi mulai layu karena pasokan air ke persawahan terus berkurang.
Desa Bontosunggu berada di Kecamatan Gantarang, sekitar lima kilometer dari pusat Bulukumba.
Kondisi tersebut terjadi saat musim kemarau berlangsung di wilayah Bulukumba.
Petani kini mengandalkan mesin pompa untuk mempertahankan tanaman padi.
Namun, tidak semua lahan memiliki akses dekat dengan sumber air.
Petani harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mengoperasikan mesin pompa.
Muh Sufri, salah seorang petani, menyebut lebih dari 100 hektare sawah terdampak.
“Akibatnya ada 100 hektare sawah lebih di sini mulai kering,” kata Sufri, Rabu (2/9/2026).
Menurut Sufri, tanaman padi terancam gagal panen jika pasokan air tidak segera tersedia.
Tanaman padi di wilayah tersebut rata-rata berusia sekitar dua bulan.
Sufri menyebut sekitar 20 hektare tanaman padi sudah tidak dapat diselamatkan.
” sekitar 20 hektare sudah tidak bisa diselamatkan karena padinya sudah layu,” katanya.
Kondisi tersebut membuat petani berupaya mencari sumber air alternatif.
Sebagian petani menggunakan mesin alkon untuk memompa air menuju sawah.
Petani bahkan bekerja sejak subuh hingga malam untuk mengalirkan air.
Namun, metode tersebut tidak dapat dilakukan seluruh petani.
Jarak sawah dengan sumber air menjadi salah satu kendala.
Biaya bahan bakar dan operasional pompa juga menjadi beban tambahan.
Sufri mengatakan sejumlah sumber mata air yang biasa digunakan warga mulai berkurang.
Sebagian sumber air bahkan disebut mulai mengering.
50 KK Bergantung pada Sawah
Menurut Sufri, lahan persawahan tersebut menjadi sumber penghidupan sekitar 50 kepala keluarga.
“Kurang lebih 50 KK yang bisa hidup dari sawah ini,” ungkapnya.
Ia menyebut produksi gabah dari sekitar 100 hektare mencapai 500 ton saat musim kemarau.
Produksi tersebut disebut dapat meningkat menjadi sekitar 700 ton saat musim hujan.
Angka tersebut merupakan perkiraan produksi menurut keterangan petani setempat.
Belum ada data resmi pemerintah mengenai potensi produksi yang hilang akibat kekeringan.
Sufri berharap pemerintah segera mengatasi persoalan pasokan air ke persawahan.
Ia meminta pemanfaatan sumber air dari Bendung Bayang-Bayang dapat dimaksimalkan.
Petani juga berharap ada pembangunan infrastruktur penyediaan air berkapasitas besar.
Infrastruktur tersebut dinilai penting untuk menjaga pasokan air saat musim kemarau.
Kekeringan Meluas
Kekeringan juga mulai dirasakan petani di wilayah lain Kabupaten Bulukumba.
Kondisi tersebut dilaporkan terjadi di Desa Bulo-bulo dan Ballasaraja, Kecamatan Bulukumpa.
Petani di Bulo-bulo terlihat menggunakan mesin pompa untuk menyelamatkan tanaman padi.
Sebagian tanaman di wilayah tersebut juga mulai mengalami kelayuan.
Kondisi serupa terjadi di Desa Dannuang, Kecamatan Ujung Loe.
Sawah warga di wilayah tersebut mulai mengering akibat berkurangnya pasokan air.
Di tengah kondisi tersebut, Polres Bulukumba ikut membantu petani.
Petugas menggunakan mobil water cannon untuk menyiram tanaman padi warga.
Kegiatan tersebut dipimpin Kabag Ops Polres Bulukumba, AKP Muh Sabri.
Penyiraman dilakukan sebagai upaya mempertahankan tanaman padi dari kekeringan.
Dinas Pertanian Masih Mendata
Kepala Dinas Pertanian Bulukumba, Andi Trimiati, mengatakan pendataan masih dilakukan.
“Petugas sementara melakukan pendataan di lapangan saat ini,” kata Andi Trimiati.
Pendataan dilakukan untuk mengetahui luasan lahan terdampak dan kondisi tanaman.
Data tersebut nantinya menjadi dasar untuk melihat dampak kekeringan terhadap petani.
Hingga pendataan selesai, luas resmi lahan yang terdampak belum dapat dipastikan.
Bagi petani, persoalan utama saat ini adalah mempertahankan tanaman sebelum memasuki masa panen.
Jika pasokan air tidak segera tersedia, tanaman yang masih bertahan berisiko mengalami kerusakan.
Kondisi tersebut dapat berujung pada penurunan produksi dan pendapatan petani.
Sumber: Tribunnews.com

