Urban Farming di Kompleks BTN Makkio Baji, Kecamatan Manggala, Kota Makassar menarik perhatian Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, Kamis (13/8/2026).
Urban farming tersebut terlihat hijau, ragam tanaman sayuran tumbuh subur di sudut permukiman.
Disana juga ada budidaya perikanan hingga peternakan.
Warga memanfaatkan ruang yang tersedia untuk menanam berbagai jenis tanaman pangan.
Aktivitas itu menjadi bagian dari pengembangan urban farming yang dilakukan Kelompok Wanita Tani (KWT) Cinta di Griya Manggala Sejahtera.
KWT Cinta menerima bantuan urban farming dari Dinas Perikanan dan Peternakan (DP2) Kota Makassar.
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin turut melihat langsung aktivitas kelompok tersebut.
Hadir Kepala DP2 Aulia Arsyad, Camat Manggala Ahmad, beberapa lurah hingga jajaran RT/RW
Munafri menilai, menilai potensi urban farming di kawasan itu sangat baik.
“Potensinya bagus sekali,” kata Munafri saat meninjau lokasi.
Menurutnya, keberhasilan urban farming tidak hanya ditentukan oleh bantuan pemerintah.
Ketekunan dan pengetahuan warga menjadi faktor penting agar tanaman dapat tumbuh dan menghasilka.
“Urban farming itu dibutuhkan ketekunan, ketelatenan, pengetahuan untuk memastikan bahwa yang ditanam adalah tanaman yang benar-benar punya usia panen yang pendek dan dibutuhkan masyarakat,” ujarnya.
Munafri melihat aktivitas warga di KWT Cinta sudah menunjukkan hasil.
Sejumlah tanaman seperti pakcoy, cabai, selada , sawi bahkan telah beberapa kali dipanen.
“Tadi kita sudah lihat ada pakcoy, ada sawi, ini kan sudah panen dan itu dimanfaatkan masyarakat juga,” katanya.
Tak hanya berada di satu titik, semangat bercocok tanam juga terlihat di sekitar permukiman.
Hampir setiap rumah disebut ikut menanam tanaman.
Menurut Munafri, kondisi tersebut menunjukkan adanya kesamaan tujuan dan kebersamaan antarwarga.
“Artinya ada keinginan, ada keseragaman, ada kerukunan warga yang punya harapan yang sama,” tuturnya.
Ia berharap pola tersebut dapat terus berkembang di tengah masyarakat.
Apalagi urban farming dinilai dapat terhubung dengan pengelolaan sampah rumah tangga.
“Urban farming ini bisa menjadi proses dari seluruh rangkaian sirkulasi pengelolaan sampah yang baik dan muaranya kepada urban farming,” jelas Munafri.
Sisa makanan dan sampah organik, kata Ketua Golkar Makassar tersebut dapat diolah menjadi kompos untuk mendukung kegiatan bercocok tanam.
“Setelah ini ya akan jadi kompos lagi sisa-sisa makanan yang didapatkan dari sini,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala DP2 Kota Makassar Aulia Arsyad mengatakan pihaknya rutin melakukan pendampingan terhadap kelompok tani dan KWT penerima bantuan.
Pendampingan dilakukan secara berkala.
Tim DP2 turun langsung ke lokasi untuk memastikan bantuan dimanfaatkan dan tanaman maupun hewan yang dibudidayakan dalam kondisi baik.
“Setiap bulan kami pantau. Setiap bulannya tim dari DP2 sendiri turun rutin untuk mengunjungi semua lokasi-lokasi yang sudah diberikan bantuan,” ujarnya.
Bantuan yang diberikan tidak hanya berupa tanaman.
DP2 juga menyalurkan benih, bibit, media tanam, kompos hingga pupuk organik cair.
Untuk sektor peternakan, bantuan berupa ayam petelur, kandang dan pakan.
Sementara sektor perikanan mendapatkan kolam terpal, bibit ikan serta pakan.
KWT Cinta menjadi salah satu dari 15 lokasi yang menjadi indikator kinerja DP2 Kota Makassar.
Di lokasi tersebut, konsep yang diterapkan lebih terintegrasi.
“Yang 15 ini semua terintegrasi: pertanian, peternakan, dan perikanan, plus pengelolaan sampah,” kata Aulia.
Menurut Aulia, bantuan diberikan sebagai bentuk apresiasi kepada kelompok yang sebelumnya telah aktif mengembangkan urban farming secara mandiri.
“Jadi ini sebagai bentuk apresiasi kepada kelompok yang sudah aktif melaksanakan kegiatan urban farming secara mandiri,” ujarnya.
KWT Cinta juga telah memiliki pasar sendiri.
Hasil panen yang diperoleh tidak sekadar dibagikan kepada warga, tetapi dijual untuk menjaga keberlanjutan kegiatan kelompok.
“Sudah berkali-kali panen. Dijual,” kata Aulia.
Hasil penjualan kemudian dapat digunakan kembali untuk kebutuhan kelompok, seperti membeli pupuk maupun pakan.
Aulia mengatakan pihaknya juga mulai mendorong kelompok memperbaiki administrasi dan pengelolaan usaha.
Salah satunya melalui lomba administrasi kelompok yang digelar tahun ini.
“Karena bantuan pemerintah itu tidak setiap tahun, tidak per dua tahun, tapi mereka diharapkan bisa mandiri dan berkelanjutan dengan menjual hasil panennya,” jelasnya.
Sumber: Tribunnews.com

