Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penyaluran kreditperbankan di Sulawesi Selatan (Sulsel) terus menunjukkan pertumbuhan positif hingga Juni atau semester satu 2026
Total kredit yang disalurkan mencapai Rp176,30 triliun, atau tumbuh 5,27 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Kepala OJK Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar) Moch Muchlasin mengatakan, pertumbuhan tersebut masih didorong sektor produktif yang porsinya lebih besar dibandingkan kredit konsumtif.
Kredit produktif dipakai untuk modal atau pengembangan usaha, sedangkan kredit konsumtif dipakai untuk keperluan pribadi atau barang habis pakai.
“Untuk penyaluran kredit sendiri, masih didominasi oleh sektor produktif dengan pangsa sebesar 52 persen,” kata Muchlasin, dalam Media Briefing di Kantor OJK Sulselbar, Jalan Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulsel, Senin (3/8/2026).
Data OJK menunjukkan, dari total kredit sebesar Rp176,30 triliun, kredit produktif mencapai Rp91,89 triliun atau 52,28 persen.
Total kredit yang disalurkan mencapai Rp176,30 triliun, atau tumbuh 5,27 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Kepala OJK Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar) Moch Muchlasin mengatakan, pertumbuhan tersebut masih didorong sektor produktif yang porsinya lebih besar dibandingkan kredit konsumtif.
Kredit produktif dipakai untuk modal atau pengembangan usaha, sedangkan kredit konsumtif dipakai untuk keperluan pribadi atau barang habis pakai.
“Untuk penyaluran kredit sendiri, masih didominasi oleh sektor produktif dengan pangsa sebesar 52 persen,” kata Muchlasin, dalam Media Briefing di Kantor OJK Sulselbar, Jalan Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulsel, Senin (3/8/2026).
Data OJK menunjukkan, dari total kredit sebesar Rp176,30 triliun, kredit produktif mencapai Rp91,89 triliun atau 52,28 persen.
“Artinya mulai terjadi, jika boleh kami sebut bukan shifting, melainkan refocusing,” kata Muchlasin.
“Jadi, saat ini banyak yang mulai berfokus pada sektor pertanian dan kehutanan,” imbuhnya.
Muchlasin menilai kondisi tersebut menjadi sinyal positif karena sektor pertanian merupakan salah satu kekuatan utama perekonomian Sulsel.
Produksi padi Sulsel bahkan telah mencapai sekitar tiga kali lipat kebutuhan daerah sehingga mampu menopang kebutuhan pangan nasional, khususnya di kawasan Indonesia Timur.
Tak hanya pertanian, sektor perikanan juga mencatat pertumbuhan kredit sebesar 5,69 persen, sejalan dengan pengembangan ekonomi biru.
Sementara itu, sektor akomodasi dan penyediaan makanan dan minuman, serta real estate, usaha persewaan, dan jasa perusahaan, juga menunjukkan peningkatan penyaluran kredit.
“Secara keseluruhan, saya melihat kenaikan-kenaikan ini terbilang seimbang,” ujar Muchlasin.
“Hal ini mulai menunjukkan bahwa industri kita di Sulawesi Selatan sudah mendapatkan porsi kredit yang lebih proporsional dan sesuai dengan profil perekonomian Sulawesi Selatan,” jelasnya.
Aset Perbankan Tumbuh 5,99 Persen
OJK Sulselbar mencatat, kinerja perbankan Sulsel hingga Juni 2026 masih berada pada tren positif.
Total aset perbankan mencapai Rp214,32 triliun atau tumbuh 5,99 persen secara tahunan.
Sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp149,77 triliun, meningkat 5,71 persen.
Adapun Rasio intermediasi atau Loan to Deposit Ratio (LDR) berada di level 117,71 persen.
Sedangkan rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) tetap terjaga pada 3,70 persen.
Penyaluran Kredit Produktif di Sulsel (Juni 2026):
– Makassar: 53,04 persen
– Palopo: 6,63 %
– Bone: 3,94 %
– Parepare: 3,89 %
– Bulukumba: 3,49 %
– Luwu Utara: 2,89 %
– Wajo: 2,70 %
– Gowa: 2,49 %
– Maros: 2,10 %
– Takalar: 1,91 %
– Sinjai: 1,87 %
– Tana Toraja: 1,85 %
– Pinrang: 1,71 %
– Jeneponto: 1,65 %
– Soppeng: 1,49 %
– Sidrap: 1,48 %
– Pangkep: 1,39 %
– Barru: 1,11 %
– Enrekang: 1,06 %
– Bantaeng: 1,05 %
– Luwu Timur: 0,97 %
– Kepulauan Selayar: 0,50 %
– Luwu: 0,46 %
– Toraja Utara: 0,32 % .
Sumber: Tribunnews.com

