Topan Bavi di Asia Timur Melemah, tetapi Tetap Berbahaya

Topan Bavi yang menerjang Asia Timur mulai melemah, tetapi tetap berbahaya. Topan bisa memicu hujan lebat dan angin kencang selama berhari-hari. China sudah mengevakuasi lebih dari 2,6 juta orang, sementara Taiwan mencatat 134 orang terluka.

Topan Bavi menerjang Provinsi Zhejiang, China bagian timur, Sabtu (11/7/2026). Topan ini mulai melemah sehingga statusnya turun menjadi badai tropis yang kuat. Namun, topan ini masih membawa hujan lebat dan angin berkecepatan sekitar 101 kilometer per jam, Minggu (12/7/2026).

”Angin kencang dan hujan lebat diperkirakan akan berdampak pada banyak kota di China timur pada hari Minggu,” bunyi pernyataan Pusat Meteorologi Nasional (NMC) yang berada di bawah Badan Meteorologi China (CMA).

Topan Bavi menjadi topan terkuat yang melanda China pada tahun ini. Cakupan sistem topan ini membentang hingga kira-kira seluas wilayah Perancis. Selain hujan lebat dan angin kencang, topan memicu tanah longsor dan genangan air di beberapa daerah.

Topan Bavi diperkirakan akan bergerak ke arah barat laut China. Seiring perjalanannya, topan diproyeksikan dapat menyebabkan hujan yang berkepanjangan dan meluas di seluruh China timur dan utara. Hujan bisa berlangsung dalam beberapa hari mendatang.

”Saat topan Bavi terus bergerak melintasi China, wilayah di dekat jalurnya dapat menerima curah hujan beberapa ratus milimeter dalam beberapa hari sehingga meningkatkan risiko banjir, tanah longsor, dan genangan perkotaan,” ujar Benjamin Horton, Dekan Sekolah Energi dan Lingkungan di Universitas Kota Hong Kong.

Horton menjelaskan, topan itu tetap perlu diwaspadai meski kekuatannya berkurang. ”Bahkan jika badai melemah setelah mendarat, sirkulasinya yang besar dapat terus menghasilkan cuaca yang merusak hingga ratusan kilometer,” ujarnya.

Para ilmuwan sudah memperingatkan bahwa China berisiko menghadapi cuaca yang lebih ekstrem pada 2026. Kemunculan El Nino, yaitu pemanasan periodik suhu permukaan laut di Samudra Pasifik, pada tahun ini dapat meningkatkan suhu dan menggeser jalur topan ke arah barat sehingga lebih mendekati pesisir China.

”Penguatan topan yang berlangsung sangat cepat mengurangi waktu persiapan bagi masyarakat dan petugas tanggap darurat sehingga situasi menjadi sangat menantang,” kata Horton.

Perkembangan evakuasi

Pihak berwenang di Zhejiang sudah mengevakuasi sekitar 2,2 juta penduduk. Media televisi CCTV melaporkan, lebih dari 1.300 pohon tumbang, termasuk 700 pohon tercabut dari akar, di kota pesisir Yueqing, Zhejiang. Tim tanggap darurat menggunakan ekskavator dan gergaji mesin untuk membersihkan jalan dari pohon.

Gangguan juga meluas ke jaringan transportasi. Di ibu kota Zhejiang, Hangzhou, dua stasiun kereta api utama menangguhkan semua layanan dan Bandara Internasional Xiaoshan membatalkan 327 penerbangan.

”Anginnya sangat kencang. Kami mendengar genteng dan ranting pohon berjatuhan. Tentu saja kami takut, tetapi kami tinggal di tepi laut sehingga kami sudah terbiasa,” tutur Li Liangxing, penduduk kota Yueqing.

Di Kanmen, dekat kota Yuhuan yang masih berada di Zhejiang, Lin Yongjin (72) merasakan langsung dampak angin kencang dan hujan lebat. Tokonya yang menghadap laut rusak karena kanopi pintu masuk runtuh sehingga air hujan membanjiri rumah. Kerugiannya mencapai lebih dari 6.000 yuan (sekitar Rp 16 juta).

”Topan kali  ini sangat berkesan daripada topan-topan yang sebelumnya. Ini adalah topan yang sangat kuat. Topan itu mendarat tepat di sini, di Kanmen. Kami berada tepat di jalurnya,” ujar Lin.

Sementara otoritas di Provinsi Fujian mengevakuasi lebih dari 180.000 orang. Menurut CGTN, di kota pesisir Ningde, pihak berwenang membantu para peternak ikan memperkuat tambatan dan memindahkan peralatan ke lokasi yang lebih aman.

Di Shanghai, pemerintah setempat mengevakuasi lebih dari 290.000 orang. Bandara Internasional Pudong Shanghai dan Bandara Internasional Hongqiao berencana membatalkan 684 penerbangan. Sebanyak 1.620 perjalanan kereta api juga ditangguhkan.

Dampak di Taiwan

Sehari sebelumnya, Sabtu (11/7/2026), topan Bavi telah melewati utara Taiwan. Topan ini tidak mendarat langsung, tetapi memicu gelombang tinggi, hujan lebat, dan angin kencang.

Badan Meteorologi Pusat (CWA) sudah mencabut peringatan darat dan laut, Minggu pagi, setelah badai menjauh. ”Peringatan darat dicabut pada pukul 05.30, disusul peringatan laut dicabut pada pukul 8.30,” bunyi pernyataan CWA menurut Focus Taiwan.

CWA menyatakan, Bavi telah melemah menjadi badai tropis. Radius sirkulasi badai juga menyusut sehingga tidak lagi mengancam perairan di bagian utara Taiwan.

Badan Pemadam Kebakaran Nasional Taiwan, Minggu, menyatakan, setidaknya 134 orang di pulau itu terluka, termasuk lecet, luka robek, dan patah tulang. Sebagian besar korban mengalami cedera karena jatuh dari sepeda atau sepeda motor, terpeleset di jalan yang licin, atau tertabrak benda. Banyak dari korban cedera telah pulang dari rumah sakit.

Kementerian Transportasi Taiwan mengatakan, 137 penerbangan internasional dibatalkan pada hari Minggu. Sebanyak 62 penerbangan domestik juga ditiadakan.

Topan Bavi membawa hujan lebat dan angin kencang ke beberapa wilayah Taiwan. Topan ini menyebabkan curah hujan hampir 80 sentimeter di salah satu daerah di Miaoli bagian utara.

”Curah hujan yang dibawa Topan Bavi sangat deras di seluruh Taiwan bagian barat dan di daerah pegunungan di seluruh negeri, terutama di utara. Curah hujan kumulatif mencapai 770,5 milimeter di Kabupaten Miaoli, 743 mm di Kabupaten Hsinchu, dan 608 mm di Taichung,” ujar Kepala Seksi Prakiraan Cuaca Biro Pusat Cuaca Taiwan Lin Po-tung.

Topan Bavi juga menerjang negara lain, termasuk Jepang dan Filipina. Di Filipina, The Star memberitakan, topan mengakibatkan tanah longsor dan menewaskan sedikitnya 17 orang. 

Sumber: Kompas.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *