Pemerintah Kota Makassar mulai mendorong penataan ulang sejumlah taman kota agar tidak hanya menjadi ruang hijau, tetapi juga ruang publik yang nyaman dan dapat dimanfaatkan seluruh masyarakat.
Melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar, sejumlah taman akan dikembangkan dengan konsep yang lebih modern, inklusif, dan ramah lingkungan.
Kepala Bidang Keanekaragaman Hayati DLH Kota Makassar, Amanda Syahwaldi mengatakan, revitalisasi taman kota menjadi salah satu langkah pemerintah dalam meningkatkan kualitas ruang publik di Kota Makassar.
Hal itu disampaikan Amanda dalam Podcast Bincang Kota Tribun Timur yang tayang Selasa (7/7/2026).
Dalam wawancara yang dipandu host I Luh Devi Sania tersebut, Amanda membahas pengembangan ruang terbuka hijau dan keanekaragaman hayati di Kota Makassar.
Amanda menyebut sejumlah taman yang akan dikembangkan melalui kerja sama pemerintah dengan pihak swasta, di antaranya Taman Macan dan Taman Hasanuddin.
”Ini sesuai dengan instruksi Bapak Wali Kota, beberapa taman kita yang ada di Kota Makassar menjadi dikerjasamakan dengan pihak perusahaan-perusahaan swasta,” katanya.
Menurut Amanda, keterlibatan pihak swasta diperlukan agar proses pembenahan dan pemeliharaan taman dapat berjalan lebih maksimal tanpa sepenuhnya bergantung pada anggaran pemerintah daerah.
”Pihak swasta inilah yang bertanggung jawab untuk pembenahannya, revitalisasinya, sehingga tidak membebani APBD Kota Makassar,” jelasnya.
Selain mempercantik kawasan taman, konsep yang dikembangkan juga diarahkan agar ruang publik dapat digunakan oleh seluruh kelompok masyarakat.
DLH Makassar bersama sejumlah perangkat daerah akan memastikan fasilitas taman memenuhi prinsip inklusivitas, termasuk bagi penyandang disabilitas.
”Beberapa taman itu akan ditata sedemikian rupa. Kami bekerja sama dengan Dinas PU, Dinas Sosial bagaimana inklusifitas itu di dalam taman-taman Kota Makassar bisa tercapai,” ujarnya.
Amanda mengatakan, taman kota ke depan tidak hanya berfungsi sebagai tempat penghijauan, tetapi juga menjadi ruang interaksi sosial bagi warga.
Ruang publik tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas masyarakat, mulai dari rekreasi, olahraga, hingga kegiatan komunitas.
Selain penataan fasilitas, DLH Makassar juga memperhatikan pengelolaan sampah yang dihasilkan dari kawasan taman.
Sampah organik berupa daun-daun pohon yang selama ini menjadi limbah akan dimanfaatkan kembali sebagai bahan kompos.
”Setiap sampah-sampah daun dari pohon-pohon itu bisa dimasukkan ke teba ataupun dimasukkan di komposter. Sirkulasinya nanti dari komposnya untuk tanaman yang ada di taman,” kata Amanda.
Menurutnya, pola tersebut menjadi bagian dari penerapan sistem lingkungan berkelanjutan.
Sampah organik yang dihasilkan taman akan kembali dimanfaatkan untuk mendukung pertumbuhan tanaman, sehingga mengurangi kebutuhan pembelian kompos dari luar.
”Ini juga sebagai penghematan supaya tidak beli kompos lagi karena komposnya dihasilkan langsung dari daun-daun ataupun sampah organik yang dihasilkan di taman sendiri,” jelasnya.
Selain pengelolaan taman, DLH Makassar juga mulai memperhatikan pemilihan jenis vegetasi yang ditanam di ruang publik.
Amanda menyebut beberapa jenis pohon yang sudah banyak ditanam di Makassar, seperti mahoni, trembesi, dan ketapang kencana.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, DLH mulai mengembangkan tabebuya sebagai salah satu pilihan tanaman perkotaan.
Menurut Amanda, tabebuya memiliki karakteristik yang sesuai untuk lingkungan perkotaan karena akarnya tidak terlalu merusak struktur tanah dan ukuran pohonnya relatif tidak terlalu besar.
”Tabebuya ini salah satu vegetasi tanaman pohon yang tidak terlalu merusak. Akarnya tidak terlalu merusak kontur tanah, kemudian tingginya juga tidak terlalu tinggi,” ujarnya.
Selain manfaat ekologis, tabebuya juga memberikan nilai estetika bagi kota karena bunganya memiliki bentuk menyerupai bunga sakura.
”Tabebuya itu yang bunganya seperti bunga sakura. Ini bisa juga nanti menambah estetika kota,” katanya.
Dengan konsep revitalisasi tersebut, DLH Makassar berharap taman kota tidak hanya menjadi penambah luas ruang hijau, tetapi juga menjadi ruang publik yang hidup dan iklusif.
Sumber: Tribunnews.com

