Sudah 17 Tewas akibat Gempa Filipina

Korban tewas akibat gempa di Mindanao, Filipina, sudah 17 orang. Kerusakan tercatat di sejumlah kota pesisir selatan Mindanao.

Gempa bermagnitudo 7,8 menggoyang Mindanao pada Senin (8/6/2026) pagi. Kantor Pertahanan Sipil (OCD) Filipina mengatakan, ada 17 korban tewas, antara lain, di Davao, General Santos, dan Cotabato. Jumlah korban cedera belum diketahui secara pasti. Sementara terdata setidaknya 129 orang cedera akibat gempa.

Media Filipina, Inquirer dan ABS-CBN, melaporkan bahwa sebagian korban tewas akibat tertimpa puing bangunan runtuh selepas gempa. Sebagian lagi tewas terkena serangan jantung karena terkejut saat gempa.

Upaya evakuasi masih terus dilakukan. General Santos sementara ini menjadi wilayah paling parah terdampak. Berbagai bangunan ambruk selepas gempa menggoyang Mindanao. General Santos berjarak sekitar 60 kilometer dari episentrum gempa.

Kerusakan, antara lain, terlihat di Bandara General Santos. Selepas gempa, setidaknya 17 penerbangan dari dan ke bandara itu dibatalkan. Salah satu kompleks pertokoan di General Santos ambruk. Kompleks itu ditempati kedai makan dan stasiun radio setempat.

Kondisi di Pulau Sarangani belum diketahui secara pasti. Pulau di selatan Mindanao itu tak sampai 40 kilometer dari episentrum gempa.

Gempa terjadi saat jam pelajaran sekolah baru mulai. Di media sosial beredar, murid SD Deped Mahayahay di kota Malita, Davao del Sur, sedang upacara kala gempa melanda.

Mereka segera jongkok di lapangan. Sebagian guru memeluk murid yang menangis dan menjerit ketakutan. Mereka berkumpul di tengah lapangan. Lalu, ada bangunan nonpermanen yang ambruk. Bangunan itu hanya tiang dan atap seng, seperti aula tanpa lantai.

Di 16 desa di Sultan Naga Dimaporo, semua sekolah diliburkan. Murid dan guru diminta mengungsi bersama warga lain. Sebab, air laut naik sampai 2 meter selepas gempa.

Petugas Tanggap Darurat Sultan Naga Dimaporo, Jennifer Senerpida, menyebut bahwa kenaikan air laut memang hanya terpantau 15 menit. Meski demikian, perintah evakuasi tetap diberlakukan.

Wali Kota Iligan, Frederick W Siao, memerintahkan sekolah diliburkan sampai Selasa. Kalau situasi membaik, murid kembali masuk pada Rabu pekan ini.

Indonesia terdampak

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) RI mengungkap, kerusakan juga terpantau di sejumlah wilayah di Indonesia. Kerusakan bangunan, antara lain, terlihat di Likupang, Minahasa Utara, Sulawesi Utara.

Kerusakan juga terpantau di Sangihe Talaud, Sulut. Sangihe merupakan pulau Indonesia yang paling dekat dengan episentrum gempa. Ada 20 keluarga terdampak di Kepulauan Sangihe dan tujuh lagi di Kepulauan Talaud. Selain 27 rumah, dua gereja dan satu sekolah juga rusak akibat gempa. Jumlah kerusakan masih terus didata.

Dalam pernyataan BNPB disebutkan, dampak guncangan gempa dirasakan di beberapa kecamatan, yaitu di Kabupaten Kepulauan Sangihe meliputi Kecamatan Marore, Tabukan Tengah, Tabukan Selatan, Tabukan Selatan Tengah, Tahuna, dan Tahuna Barat. Di Kabupaten Kepulauan Talaud, guncangan dirasakan di Kecamatan Rainis, sementara di Kabupaten Minahasa Utara dirasakan di Kecamatan Likupang Barat. Di Kota Manado, gempa dirasakan dengan intensitas sedang selama beberapa detik.

Pada saat kejadian, masyarakat di Kabupaten Kepulauan Sangihe merasakan guncangan cukup kuat 3–4 detik yang sempat menimbulkan kepanikan. Sementara itu, di wilayah lainnya, seperti Talaud, Manado, dan Minahasa Utara, guncangan dirasakan lemah hingga sedang dengan durasi 2-4 detik. BPBD di setiap wilayah segera melakukan pemantauan, pengumpulan data, serta asesmen cepat untuk memastikan dampak yang ditimbulkan.

Menurut BMKG RI, gempa terpantau bermagnitudo 7,7. Kepulauan Sangihe paling terdampak karena terdekat dengan episentrum.

Selepas gempa, sempat dikeluarkan peringatan dini tsunami untuk sejumlah wilayah di Sulawesi dan Kalimantan. Belakangan, peringatan dicabut.

Sumber: Kompas.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *