Kerja Proyek Rp245 M, Mandor Sekolah Rakyat Sinjai Berutang Rp20 Juta ke UMKM

Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mengeluhkan utang mandor Sekolah Rakyat (SR) di Sinjai.

Total utang mandor Sekolah Rakyat Sinjai mencapai Rp20 juta.

Manajer Keuangan dan SDM proyek, Hasril Hamun, mengaku baru mengetahui persoalan utang mandor setelah muncul keluhan dari masyarakat.

Utang tersebut terjadi di luar mekanisme resmi perusahaan.

“Kami tidak tahu bahwa ada utang dari mandor di luar dari ketentuan kami,” ujar Hasril Hamun, Rabu (13/5/2026).

Kebutuhan konsumsi pekerja menjadi kewenangan masing-masing mandor di lapangan.

Perusahaan rutin menyalurkan dana operasional kepada mandor proyek.

“Terkait makanan catering itu adalah kewenangan mandor pekerja,” ujarnya. 

“Dan kami setiap waktu menyalurkan anggaran atau dana kepada mandor,” lanjutnya.

Hasril memastikan persoalan tunggakan tetap menjadi perhatian pihak manajemen proyek.

Perusahaan segera melakukan mediasi bersama pihak terkait.

“Adapun persoalan ini tetap akan menjadi perhatian kami untuk diselesaikan sebagaimana mestinya,” tegasnya.

Sebelumnya, pelaku usaha katering dan warung di Kabupaten Sinjai, mengeluhkan tunggakan pembayaran dari pekerja proyek Sekolah Rakyat.

Program Presiden Prabowo Subianto itu dibangun di Lingkungan Tanassang, Kelurahan Alehanuae, Kecamatan Sinjai Utara.

Lokasi proyek berjarak sekitar 200 meter dari Kantor Bupati Sinjai. Tepat di belakang Kantor Dinas PMD Sinjai.

Proyek ini dikerjakan PT Nindya Karya KSO- PT Bumi Perkasa Sidenreng dengan nilai kontrak Rp245 miliar.

Pelaku usaha, Sinar (42), mengaku belum menerima pembayaran sebesar Rp4,7 juta dari sejumlah pekerja proyek.

Menurutnya, utang tersebut sudah ada sejak sebelum Lebaran Idulfitri 2026 dan hingga kini belum dilunasi.

“Masih ada sekitar tujuh pekerja yang belum membayar. Mereka sudah pulang ke Jawa,” katanya, Minggu (10/5/2026).

Tunggakan itu meliputi biaya makan, rokok, minuman hingga mie instan yang diambil para pekerja selama berada di Sinjai.

Mandor proyek sebelumnya berjanji akan bertanggung jawab dan melunasi utang tersebut setelah Lebaran.

“Setelah Lebaran katanya mau na bayar tapi sampai sekarang belum,” ujarnya.

Sinar berharap pihak terkait segera menyelesaikan kewajiban tersebut agar kerugian yang dialami pelaku usaha kecil tidak semakin besar.

Keluhan serupa disampaikan Marlina (43), pemilik usaha katering mengaku masih memiliki piutang sebesar Rp20.484.000.

Awalnya total tunggakan mencapai Rp42.984.000, namun sebagian telah dibayarkan sehingga tersisa sekitar Rp20 juta lebih.

Utang tersebut merupakan tanggung jawab mandor pekerja bernama Tomo.

“Awalnya pembayaran lancar, tapi sekarang sudah tidak ada kejelasan,” katanya.

Ia mengungkapkan sebelum para pekerja mudik Lebaran Idulfitri, seorang mandor bernama Tomo sempat ditahan agar persoalan pembayaran diselesaikan.

Namun Tomo kemudian dijamin oleh salah satu pekerja berinisial A sehingga diperbolehkan pulang ke Jawa.

“Pernah saya tahan pas mau mudik, tapi ada jaminki bahwa akan dibayar,” ujarnya.

Bahkan disebutkan ada surat perjanjian tertulis dari Mandor Tomo yang menyatakan sisa pembayaran akan dilunasi setelah tiba di Jawa.

Marlina mengaku percaya terhadap jaminan tersebut sehingga membiarkan para pekerja pulang.

Namun hingga kini pembayaran belum juga diterima.

Marlina juga menyebut pekerja berinisial A masih memiliki utang pribadi sekitar Rp5 juta kepadanya.

Marlina menuturkan ia melayani sekitar 400 dos makanan sehari.

“Dua kali makan saya siapkan, sekitar 400 dos semua,” ujarnya.

Ia berharap biaya tunggakan tersebut secepatnya dibayarkan.

“Saya berharap seluruh tunggakan tersebut segera dibayarkan, saya mau uangku kembali,” katanya.

Sumber: tribunnews.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *