Israel Operasikan Pangkalan Rahasia di Irak

Militer Israel membangun pangkalan rahasia di wilayah Irak untuk mendukung agresi ke Iran. Kantor Berita Reuters mengutip laporan The Wall Street Journal, Sabtu (9/5/2026), menyebutkan, pangkalan militer tersebut ditujukan untuk mengarahkan serangan, evakuasi personel, dan logistik.

Lokasi pangkalan tersebut berada di padang pasir terpencil di Irak barat, dekat perbatasan Jordania dan Iran. Dilaporkan terjadi kontak senjata beberapa kali karena adanya kelompok penggembala ternak yang tidak sengaja berada di dekat lokasi pangkalan militer Israel.

Times of Israel, Sabtu (9/5/2026), melaporkan, pangkalan aju tersebut untuk menyediakan logistik Angkatan Udara Israel dan tim Combat Search and Rescue (Combat SAR). Sebagai prosedur tetap operasional pesawat tempur, selalu disediakan Combat SAR yang dilengkapi helikopter awak terbang dan awak medis dalam setiap penugasan.

Untuk pengamanan pangkalan aju tersebut, ditempatkan pasukan khusus Israel di sana. Pangkalan tersebut sengaja dibangun sebelum agresi AS-Israel ke Iran yang dilancarkan pada 28 Februari 2026.

Pada Maret 2026, Irak menyampaikan keberatan atas keberadaan pasukan asing (dituduhkan kepada Amerika Serikat) di wilayahnya di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York. AS menyanggah tuduhan tersebut dan menyatakan tidak terlibat apa pun dalam insiden yang dilaporkan Irak.

Reuters tidak bisa mengonfirmasi laporan tersebut secara mandiri. Kantor PM Israel juga belum menjawab permintaan konfirmasi atas informasi pangkalan militer Israel di dalam wilayah Irak.

Sebelumnya, pasukan Irak yang mendapat laporan dari masyarakat Bedouin setempat tentang adanya aktivitas tidak lazim segera mendatangi lokasi dimaksud. Militer Israel menyerang dan berhasil mengusir pasukan Irak ketika itu.

Laporan awal yang didapat Irak adalah adanya aktivitas helikopter dan suara tembakan senjata. Dalam kontak senjata yang terjadi, seorang prajurit Irak dikabarkan gugur.

Kepala Staf Angkatan Udara Israel Mayor Jenderal Tomer Bar, Maret 2026, juga menyampaikan pasukan khusus Israel melakukan operasi yang luar biasa dalam agresi ke Iran. Menurut narasumber The Wall Street Journal, lokasi pangkalan rahasia tersebut sangat ideal karena berada di tengah padang pasir yang nyaris tidak berpenghuni.

Michael Knights dari lembaga kajian intelijen strategis Horizon Engage mengatakan, sebelum sebuah operasi militer seperti serangan AS-Israel ke Iran, sangat wajar disediakan pos aju untuk pengintaian dan mendukung operasi jarak jauh.

Daerah padang pasir tersebut menurut laman Brittanica adalah daerah sebaran masyarakat Bedouin (Badw yang berarti penghuni padang pasir) yang memiliki jaringan kekerabatan hingga Suriah dan Padang Pasir Negev (Gurun Naqab) di Israel. Sebagian dari masyarakat Bedouin masih hidup berpindah-pindah sambil menggembalakan ternak mereka. Masyarakat Bedouin hidup dalam suku (qabail) dan klan (asair).

Militer Israel di UEA

Keberadaan pangkalan militer Israel yang diakui di Negara Teluk setidaknya diketahui ada di Uni Emirat Arab (UEA). Laporan kantor berita CNN (3/5/2026) menunjukkan, sistem senjata Israel, Iron Dome, menembak jatuh salah satu rudal yang ditembakkan ke UEA. Israel mengoperasikan Iron Dome berikut prajurit Israel (Tzahal) di UEA untuk menangkal serangan Iran.

Pejabat Israel dan diplomat Arab mengonfirmasi keterangan tersebut dalam media Israel, Axios. Axios menjelaskan ada puluhan prajurit Israel ditempatkan di UEA untuk mengoperasikan senjata-senjata terbaru itu.

Namun, mereka menyanggah informasi Israel menempatkan senjata laser Iron Beam di Abu Dhabi, ibu kota UEA. Menurut sumber tersebut, sistem senjata terbaru Israel itu terlalu sensitif untuk dioperasikan di mancanegara.

Akan tetapi, dalam laporan Financial Times, selain senjata laser (Iron Beam), disebutkan Israel memasang sistem pengintaian Spectro untuk memantau pesawat nirawak hingga jarak 20 kilometer. Menurut Financial Times, tidak sedikit senjata dan prajurit Israel yang ditempatkan di UEA.

Beberapa senjata terbaru Israel yang ditempatkan di UEA adalah purwarupa dan bersifat uji coba, sementara beberapa senjata lainnya sudah menjadi arsenal militer Israel, IDF (Tzahal).

Senjata laser Iron Dome baru digunakan Tzahal sejak Desember 2025. Senjata tersebut dikembangkan lebih dari 10 tahun sejak tahun 2014. Iron Dome dinyatakan laik operasi setelah rangkaian operasi pada September 2025.

Dalam operasinya, Iron Dome digunakan untuk menghantam proyektil kecil dan sasaran besar akan ditangkal dengan baterai senjata lainnya, seperti David Sling dan Arrow.

Seorang pejabat militer Iran kepada stasiun TV setempat mengatakan, Iran tidak punya rencana untuk menyerang fasilitas minyak negara tetangga.

Selama agresi AS-Israel ke Iran sejak 28 Februari 2025, Iran melancarkan serangan balasan terbanyak ke wilayah UEA. UEA memiliki kerja sama militer dan menampung banyak fasilitas militer dan prajurit AS di negara mereka.

Militer Iran dalam keterangan, Selasa, memperingatkan UEA bahwa UEA sebagai negara Islam seharusnya tidak menampung militer AS dan prajurit zionis.

Israel dan UEA mengadakan kerja sama pertahanan sejak tahun 2020 seiring dengan Kesepakatan Abraham (Abraham Accords) yang menormalisasikan hubungan Israel-UEA.

Selain UEA, Bahrain juga menandatangani kesepakatan serupa dengan Israel. Namun, hingga kini, menurut Times of Israel, belum ada tanda-tanda pengerahan senjata dan prajurit Israel ke Bahrain yang menjadi markas Armada Ke-5 dan Komando Tengah (Central Command) Militer Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia dan Timur Tengah. (REUTERS)

Sumber: kompas.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *