Wabah virus hanta yang awalnya terpusat di kapal pesiar Hondius memasuki babak baru. Belasan negara mulai melacak penumpang yang sempat turun dari kapal dan terbang ke berbagai belahan dunia.
Sekretaris Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyeus dalam pernyataannya pada Kamis (7/5/2026) mengatakan, delapan kasus virus hanta telah dilaporkan dari kluster kapal pesiar Hondius. Tiga orang meninggal, lima kasus terkonfirmasi, dan tiga kasus diduga.
Kematian pertama di kapal itu adalah seorang pria yang mengalami gejala pada 6 April dan meninggal lima hari kemudian. Tidak ada sampel yang diambil, dan virus hanta tidak teridentifikasi karena gejalanya mirip dengan virus lain. Istri pria itu menjadi korban kedua. Dia turun ke darat di Saint Helena, mengalami gejala dan meninggal pada 25 April. Wanita lain menjadi korban ketiga, mengalami gejala pada 25 April dan meninggal tujuh hari kemudian.
Sebelum naik kapal, dua korban pertama telah melakukan perjalanan di Chile, Argentina, dan Uruguay dalam perjalanan pengamatan burung, termasuk kunjungan ke lokasi tempat tinggal tikus yang dikenal membawa virus hanta. Otoritas Argentina sedang menyelidiki pergerakan pasangan tersebut. Tedros mengatakan Argentina akan mengirimkan 2.500 alat diagnostik ke laboratorium di lima negara.
Menurut Tedros, strain virus hanta yang terdeteksi di kapal pesiar berbendera Belanda itu adalah virus Andes. Virus ini telah ditemukan di Amerika Latin dan merupakan satu-satunya virus hanta yang diketahui mampu menular dari manusia ke manusia dalam jumlah terbatas.
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat, terdapat hampir 40 strain virus hanta yang ditemukan di seluruh dunia, dan strain yang berbeda menyebabkan penyakit yang berbeda pula. Infeksi biasanya disebabkan oleh menghirup kuman dari urine, kotoran, atau air liur hewan pengerat yang telah menjadi partikel di udara.
Virus hanta biasanya menyebar melalui kontak dengan hewan pengerat seperti tikus dan mencit. Sementara itu, strain virus Andes terutama dibawa oleh tikus padi kerdil. Virus strain ini telah ditemukan di Amerika Latin, termasuk Argentina.
”Mengingat masa inkubasi virus hanta yang bisa mencapai enam minggu, ada kemungkinan lebih banyak kasus akan dilaporkan,” kata Tedros.
Ia menambahkan, kejadian kali ini merupakan insiden serius. Meski demikian, WHO menilai risiko kesehatan masyarakat masih rendah.
Ancaman meluasnya wabah
Dengan keterlibatan virus Andes yang bisa menular ke sesama manusia, negara-negara kini mulai melacak penumpang yang sudah pulang ke berbagai belahan dunia. Peristiwa ini pun menghidupkan kembali kekhawatiran tentang kemungkinan kelompok virus hanta ini menjadi wabah global berikutnya.
Virus hanta sebenarnya bukan virus baru. Ia sudah dikenal sejak Perang Korea pada 1950-an dan selama puluhan tahun dianggap sebagai penyakit langka yang terbatas di wilayah perdesaan atau kawasan liar dengan populasi tikus tinggi.
Virus ini umumnya menyebar melalui partikel udara dari urine, kotoran, atau air liur tikus yang mengering. Ketika manusia membersihkan gudang, loteng, kabin tertutup, atau bangunan yang lama tidak dipakai, partikel virus dapat beterbangan dan terhirup.
Sebagian besar jenis virus hanta tidak menular antarmanusia. Namun, Andes memiliki karakteristik berbeda. Jenis virus yang kini memicu wabah di Argentina dan terkait dengan kasus kapal pesiar itu merupakan satu-satunya virus hanta yang secara jelas terbukti dapat menular antarmanusia melalui kontak dekat berkepanjangan.
Karena itu, meski kasusnya masih kecil, alarm global langsung berbunyi. ”Dengan virus zoonotik apa pun, situasinya pada dasarnya tidak bisa diprediksi,” kata ahli virologi dari US Army Medical Research Institute of Infectious Diseases, Jay Hooper, kepada jurnal Nature.
Ia mengingatkan bagaimana virus yang awalnya tampak terbatas dapat berubah menjadi ancaman internasional. ”Lihat apa yang terjadi dengan monkeypox,” katanya.
Emily Abdoler, seorang dokter penyakit menular di University of Michigan Health, mengatakan, strain Andes dapat menyebar melalui tetesan pernapasan, yang dihasilkan ketika seseorang batuk, bersin, atau berbicara. Virus ini juga dapat menyebar melalui cairan tubuh, termasuk pertukaran air liur dan kontak intim lainnya.
Meski demikian, menurut Pablo Vial, seorang dokter penyakit menular yang mempelajari virus hanta di Institut Ilmu Pengetahuan dan Inovasi Kedokteran di Santiago, Chile, ia telah merawat banyak pasien dengan strain Andes. Penularan dari orang ke orang hanya menyebabkan 2 persen hingga 5 persen dari semua kasus virus Andes. Ini berarti kemampuan penularan ke sesama manusia relatif rendah.
”Dalam wabah sebelumnya, ada contoh penularan dari manusia ke manusia, terutama di antara kontak dekat yang memberikan perawatan klinis atau orang-orang yang telah melakukan kontak fisik dekat,” kata Maria Van Kerkhove, seorang ahli epidemiologi penyakit menular di WHO. ”Ini bukan Covid. Ini bukan influenza. Ini menyebar dengan cara yang sangat, sangat berbeda.”
Setidaknya ada satu peristiwa ”penyebar super” yang terdokumentasi, yakni di Epuyén, Argentina, pada tahun 2018, menurut sebuah laporan di The New England Journal of Medicine. Wabah tersebut dipicu oleh tiga orang dengan gejala, yang menghadiri acara sosial yang ramai, termasuk pesta ulang tahun. Pada akhirnya, 34 kasus dikonfirmasi, dengan 11 kematian.
Gustavo Palacios, penulis senior laporan penyebar super Argentina, mengatakan sebagian besar kasus penularan virus Andes dari manusia ke manusia yang diketahui terjadi di antara orang-orang yang melakukan kontak dekat, misalnya tinggal bersama, menjalin hubungan, atau petugas kesehatan yang merawat pasien yang sakit. Palacios adalah profesor mikrobiologi di Icahn School of Medicine di Mount Sinai, New York.
Sebagian besar ilmuwan menilai peluang virus hanta menjadi pandemi besar seperti Covid-19 masih rendah. Hal itu karena virus ini tidak menyebar seefisien virus corona atau influenza. Penularan antarmanusia pada virus Andes sejauh ini tampak membutuhkan kontak dekat dan intens dalam waktu lama, seperti pasangan serumah atau perawatan langsung terhadap pasien sakit.
Namun, peluang ”rendah” itu bukan berarti aman. Masalahnya, virus hanta memiliki tingkat kematian sangat tinggi. Pada bentuk Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), fatalitas bisa mencapai 30 hingga 50 persen. Itu berarti satu dari dua pasien dapat meninggal.
Virus ini juga sulit dikenali pada fase awal karena gejalanya menyerupai flu biasa, seperti demam, nyeri otot, sakit kepala, mual, dan kelelahan. Ketika paru-paru mulai dipenuhi cairan dan pasien kesulitan bernapas, kondisinya sering sudah berat.
Dalam dunia yang sangat terhubung oleh perjalanan internasional, virus dengan penularan lambat sekalipun tetap bisa berpindah lintas negara sebelum gejala muncul.
Belum ada vaksin dan obat
Hal yang paling mengkhawatirkan dari virus hanta bukan hanya tingkat kematiannya, melainkan minimnya alat pertahanan manusia terhadap virus ini. Sampai sekarang belum ada vaksin virus hanta yang tersedia luas untuk publik global. Belum ada pula pengobatan antivirus spesifik yang terbukti efektif.
Pasien umumnya hanya mendapat perawatan suportif seperti oksigen, ventilator, cairan infus, atau dialisis jika ginjal gagal berfungsi. Padahal, penelitian vaksin sebenarnya sudah berlangsung puluhan tahun.
Militer Amerika Serikat mulai mengembangkan vaksin virus hanta sejak 1980-an karena risiko virus ini terhadap tentara di lapangan. Hooper dan timnya telah mengembangkan vaksin DNA untuk virus Andes, virus Hantaan, dan virus Puumala.
Dalam uji klinis fase awal, vaksin virus Andes mampu menghasilkan antibodi penetral yang penting untuk perlindungan tubuh. Namun, ada masalah besar.
Vaksin itu memerlukan setidaknya tiga dosis untuk menghasilkan respons imun optimal. Selain itu, kasus virus Andes sangat jarang dan tersebar geografisnya sehingga sulit melakukan uji klinis efektivitas skala besar seperti vaksin Covid-19. ”Tidak ada wilayah yang jelas untuk menjalankan uji efikasi fase ketiga secara klasik,” kata Hooper.
Selain itu, pasar vaksin virus hanta dianggap kecil dan tidak menarik secara bisnis. Kelompok yang kemungkinan membutuhkan vaksin hanyalah pelancong ke daerah endemik, pekerja lapangan, militer, atau orang dengan risiko tinggi kontak dengan tikus. ”Ini bukan pasar vaksin yang menarik dari perspektif bisnis murni,” ujar Hooper.
Akibatnya, riset berkembang lambat karena kurang pendanaan. ”Kami seperti mendorong batu ke atas bukit selama bertahun-tahun,” katanya.
Melihat perkembangan saat ini, vius hanta kemungkinan tidak akan menjadi pandemi eksplosif seperti Covid-19 dalam waktu dekat. Namun, wabah kapal pesiar menunjukkan bahwa dunia kini hidup dalam kondisi yang berbeda dibandingkan beberapa dekade lalu. Mobilitas manusia global membuat virus yang sebelumnya terisolasi dapat ikut bepergian lintas benua hanya dalam hitungan jam.
Dalam situasi seperti itu, ancaman wabah tidak lagi hanya ditentukan oleh seberapa mudah virus menular, tetapi juga oleh seberapa siap sistem kesehatan dunia mendeteksi dan meresponsnya.
Virus hanta bergerak lebih lambat daripada virus corona. Namun, ia membawa kombinasi yang membuat ilmuwan tetap waspada, yaitu fatalitas tinggi, reservoir hewan liar yang sulit dikendalikan, pengaruh perubahan iklim yang memperluas sebaran penyakit menular, dan ketiadaan vaksin ataupun obat spesifik.
Ancaman terbesarnya mungkin bukan pandemi global besar, melainkan rangkaian wabah regional mematikan yang terus muncul di dunia yang semakin panas, semakin rusak ekologinya, dan semakin terhubung.
Sumber: kompas.id

