Kerugian Amerika Serikat akibat pembalasan Iran terus terkuak. Sebagian kerugian itu ditimbulkan oleh jet-jet tua Iran, seperti F-5, F-14, dan Sukhoi SU-24.
Media AS, NBC, pada Sabtu (25/4/2026) mengonfirmasi Iran memakai F-5 untuk menyerang pangkalan Buehring di Kuwait. Serangan dilancarkan di awal perang.
NBC tak menyebut kapan pastinya serangan dilancarkan. Iran mulai membalas beberapa jam selepas AS-Israel menyerang pada 28 Februari 2026.
Pangkalan Buehring, yang seperti disiarkan pusat informasi Departemen Pertahanan AS, antara lain dilindungi artileri pertahanan udara Patriot. Pangkalan itu menjadi markas sejumlah unit baterai arhanud AS di Kuwait.
Mengutip dua pejabat AS, NBC menyebut serangan jet yang usianya paling tidak 50 tahun itu sebagai hal amat langka. Usia jet tempur Iran itu paling tidak beberapa puluh tahun lebih tua dari sistem pertahanan di Pangkalan Buehring.
Dari AS, Iran memang menerima lebih dari 300 F-5 di era Shah Reza Pahlavi. Semua datang bertahap pada 1965-1976. Waktu itu, Iran bersahabat baik dengan AS dan sekutunya.
Gelombang pertama, 11 F-5A dan F-5B, datang pada Februari 1965. Sampai 1972, total 104 F-5A dan 23 F-5B dikirim AS ke Iran. Lalu, Iran menerima 166 F-5E dan F-5F serta 15 RF-5A. Varian RF adalah versi pengintai dari jet F-5.
Sebagian besar varian F-5E Iran telah dijual ke beberapa negara lain. Turki, Etiopia, Vietnam Selatan, sampai Yunani pernah membeli F-5 dari Iran.
Jet F-5E bekas Iran terlibat dalam Perang Vietnam. Sebagian lagi dipakai Iran dalam perang melawan Irak pada 1980-an.
Lalu, karena embargo total sejak 1979, Iran menjadikan mayoritas F-5 sebagai sumber suku cadang bagi sesama pesawat itu. Dengan kanibal, Iran mempertahankan F-5 tetap beroperasi. Sebagian akhirnya dipakai menyerang Pangkalan Buehring di Kuwait.
Tak disebutkan, Iran memakai F-5 seri apa untuk menyerang Pangkalan Buehring. Hal yang jelas, dari waktu pengiriman saja, paling tidak usia jet itu 50 tahun. Sementara berbagai arhanud AS di kawasan berusia paling tua 30 tahun.
Sejumlah pihak menduga, penembakan tiga F-15 AS oleh Kuwait karena Iran menggunakan F-5. Warna abu-abu F-5 bisa salah diidentifikasi sebagai pesawat jenis lain, termasuk F-15.
Sedikit lebih muda dari F-5 adalah F-14. Seperti F-5, F-14 juga buatan AS dan dijual ke Iran di era Shah Reza. Iran menerima hampir 80 unit F-14 dari AS.
Lewat Epic Fury, sandi operasi serangan AS ke Iran sejak 28 Februari 2026, Washington menyatakan telah menghancurkan sisa F-14 yang masih beroperasi. Iran disebut menjadi negara terakhir yang mengoperasikan jet tempur itu sebagai persenjataan utama di udara.
Seperti untuk F-5, Iran terutama menggunakan sistem kanibal untuk mempertahankan F-14 bisa beroperasi. Suku cadang dari satu pesawat dipakai di pesawat lain. Pesawat yang sudah tak mungkin terbang diambil suku cadangnya untuk pesawat yang dinilai masih mampu terbang.
Terbang rendah
Pesawat yang lebih muda adalah SU-24. Menurut CNN, pilot-pilot Iran menerbangkan SU-24 sekitar 25 meter di atas permukaan laut untuk menghindari radar pada 2 Maret 2026. Misi dua pesawat itu adalah mengebom Pangkalan Udara Al-Udeid di Qatar.
Begitu rendahnya pesawat itu terbang, sampai sebagian orang di Qatar bisa memotretnya dengan jelas. Dalam sejumlah rekaman foto dan video terlihat pesawat itu dimuati aneka bom dan rudal.
Meski sudah terbang amat rendah, kedua pesawat itu tetap terlacak dan Qatar menjatuhkannya sebelum bisa menyerang Al-Udeid. Lanud Al-Udeid merupakan pangkalan terbesar AS di kawasan. Setidaknya 10.000 tentara AS ditempatkan di Al-Udeid.
Selain Al-Udeid dan Buehring, beberapa pangkalan AS di Timur Tengah jadi sasaran Iran. Rudal dan pesawat nirawak jadi perangkat utama pembalasan itu.
American Enterprise Institute, lembaga kajian konservatif di AS, menyebut bahwa Iran menyerang landas pacu, jaringan stasiun komunikasi, radar, hangar, sampai gudang. Iran juga menghancurkan berbagai pesawat AS pada hari-hari awal pembalasannya.
Paling tidak 11 pangkalan AS di tujuh negara Teluk jadi sasaran Iran. ”Dampak Epic Fury, biaya membangun ulang infrastruktur militer di luar akan termasuk perbaikan, rekonstruksi, pergantian, bahkan pengabaian aset setempat,” kata peneliti AEI, Mackenzie Eaglen.
Ia menyebut, banyak sasaran Iran yang tak bisa diselamatkan lagi. Di luar radar, persenjataan, pesawat, dan peralatan lain, nilai kerusakannya ditaksir 5 miliar dolar AS.
Pejabat AS menyatakan, setidaknya dua sistem radar arhanud AS di kawasan dihancurkan Iran. Ada radar yang biaya pembuatannya 1,1 miliar dolar AS.
Menjelang AS-Israel menyerang Iran, ribuan tentara diminta keluar dari pangkalan di Timur Tengah. Mereka diinapkan di sejumlah hotel atau fasilitas lain. Sebagian lagi dipulangkan ke AS.
Dampaknya, pertahanan pangkalan tidak bisa beroperasi maksimum. Peralatannya ada, walau terbatas, sementara operatornya hampir tidak ada.
Maka, Iran pun menyerang pangkalan itu dengan beragam perangkat. Termasuk dengan pesawat berusia setidaknya setengah abad.
Dalam film AS, pilot dari Top Gun memakai pesawat tua untuk menyerang lawan. Di dunia nyata, Iran yang memakai pesawat tua untuk menyerang pangkalan AS
Sumber: kompas.id

