Rencana pembangunan taman di kawasan Km 0 tol masih harus melalui pembahasan lanjutan. Proyek yang digadang-gadang menjadi ikon baru kota ini belum dapat direalisasikan dalam waktu dekat karena terkendala aspek administrasi lahan.
Gagasan pembangunan taman tersebut mencuat dalam pertemuan antara Direktur Komersial PT Pelabuhan Indonesia (Persero), Farid Padang bersama Executive Director 4 Pelindo Regional IV, Abdul Azis dengan Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, di Balaikota Makassar, Rabu (8/4) lalu.
Salah satu pembahasan dalam pertemuan tersebut terkait penataan kawasan perkotaan, yakni pembangunan taman di area km 0 tol.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar, Helmy Budiman mengatakan pembangunan taman di wilayah tersebut butuh perencanaan matang. Termasuk kejelasan alas hak.
Menurutnya, lahan tersebut masih berada dalam penguasaan Pelindo. Pemkot Makassar tak bisa membangun sebelum proses administrasi diselesaikan.
Helmy menegaskan kejelasan status lahan menjadi syarat utama agar perencanaan dapat dilanjutkan ke tahap teknis.
“Harus ada penyerahan lahan dulu,” ujar Helmy di Balaikota, Jumat (10/4).
Selain lahan, proyek ini juga belum masuk dalam skema penganggaran.
Saat ini, Pemkot masih memprioritaskan program lahan yang telah diajukan ke Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TPAD), utamanya penanganan dan penataan Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Fokus tersebut dinilai mendesak mengingat kondisi pengelolaan sampah di Makassar yang butuh pembenahan serius.
Appi, sapaan Munafri, berharap Taman Km 0 menjadi ruang publik yang representatif sekaligus memperindah kawasan pesisir yang menjadi pintu gerbang utama aktivitas pelabuhan.
Farid Padang mengatakan sinergi antara Pelindo dan Pemerintah Kota Makassar diharapkan mampu menciptakan kawasan pelabuhan yang lebih tertata, mendukung kelancaran distribusi logistik, serta menghadirkan ruang publik yang nyaman bagi masyarakat.
Kolaborasi ini juga menjadi bagian dari upaya bersama dalam mewujudkan kawasan pesisir Makassar yang modern, terintegrasi, dan berdaya saing.
“Sekaligus memperkuat peran Pelabuhan Makassar sebagai simpul logistik utama di Indonesia Timur,” kata Farid.
Sumber: Harian Tribun Timur, 11 April 2026

