Terdampak Perang di Iran, ”Posisi” Politik Trump Rawan

Presiden Amerika Serikat Donald Trump terdesak secara politik oleh perang Iran. Sejumlah pendukung setianya mulai berbalik mengkritik kebijakannya. Dukungan publik terhadap serangan itu rendah, sementara basis suara Trump mulai terbelah.

Dua pekan setelah AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran, Trump dinilai belum mampu menjelaskan secara meyakinkan mengapa ia memulai perang dengan Iran. Ia juga dinilai tak meyakinkan bagaimana ia akan mengakhirinya.

Di saat yang sama, keresahan publik justru membesar. Korban jiwa di pihak Amerika bertambah menjadi tujuh orang, harga minyak melonjak, dan pasar keuangan goyah.

Situasi itu memberikan amunisi baru bagi Partai Demokrat menjelang pemilu sela Kongres pada November 2026. Setelah sempat limbung akibat kekalahan dalam pemilu presiden 2024, Demokrat mulai bersatu menyerang kebijakan Trump atas Iran.

Demokrat menjadikan kebijakan itu sebagai bukti bahwa Partai Republik gagal memenuhi janji menurunkan biaya hidup warga.

”Demokrat berada pada posisi yang baik untuk November dan pemilu sela,” kata Kelly Dietrich, CEO National Democratic Training Committee, lembaga yang melatih kader Demokrat untuk maju dalam pemilu dan mengelola kampanye, dikutip dari Associated Press, Minggu (15/3/2026).

Menurut Dietrich, dua pekan terakhir menunjukkan pemerintahan Trump tidak memiliki perencanaan jangka panjang yang jelas. ”Mereka berjalan serampangan, dan kita semua yang menanggung harganya,” ujarnya.

Kegelisahan Trump tampak dalam sikapnya terhadap media. ”Media sebenarnya ingin kita kalah dalam perang,” katanya di unggahan media sosial miliknya, Truth Social.

Setelah itu, regulator penyiaran di bawah pemerintahannya mengancam akan mencabut izin siaran bila media tidak mengubah haluan pemberitaan soal perang di Iran.

Seiring itu, semakin lama perang berlangsung, semakin besar pula risiko politik yang dihadapi Trump. Bagi Demokrat, situasi itu membuka peluang untuk mengulang kemenangan besar seperti gelombang biru pada pemilu sela 2018, saat Trump menjalani masa jabatan pertamanya.

”Demokrat hanya harus terus mengingatkan orang bahwa dia berjanji menurunkan harga, tetapi harga masih naik,” kata ahli strategi Demokrat, Brad Bannon. ”Dan sekarang harga akan naik lebih jauh lagi karena harga bensin dapat menaikkan harga segala hal lain, termasuk bahan makanan,” ujarnya, menambahkan.

Klaim Trump

Masalahnya, klaim kemenangan Trump tidak sejalan dengan situasi di lapangan. Pada awal perang, ia berjanji kapal-kapal Angkatan Laut AS akan mengawal tanker melalui Selat Hormuz.

Namun, hal itu tak juga terwujud. Saat hendak terbang ke Florida pada Jumat malam, ia hanya mengatakan, ”Itu akan terjadi segera. Sangat segera,” ujarnya.

Belakangan, Trump justru mulai mengharapkan keterlibatan internasional untuk menjaga Selat Hormuz. Ia menyerukan agar negara-negara yang terdampak penutupan Selat Hormuz untuk mengirim kapal perang bersama AS.

”Semoga China, Perancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan negara-negara lain yang terdampak akan mengirim kapal ke kawasan itu sehingga Selat Hormuz tidak lagi diancam oleh Iran,” tulis Trump.

Sementara itu, gangguan di Selat Hormuz terus terjadi. Iran juga terus melancarkan serangan. Sejumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz terdampak.

Namun, hingga Sabtu, Gedung Putih tidak memberikan penjelasan secara rinci soal unggahan Trump itu. Kementerian Pertahanan Inggris hanya menyatakan sedang membahas berbagai opsi dengan sekutu dan mitranya.

Tekanan lain muncul setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan pengabaian sanksi selama 30 hari untuk Rusia. Pelonggaran sanksi itu membuat Rusia dapat membebaskan kargo minyaknya yang tertahan di laut.

Langkah itu dimaksudkan untuk membantu kekurangan minyak dunia. Namun, seperti buah simalakama, kebijakan itu memicu kritik. Kebijakan dinilai justru memperkuat posisi Rusia di perang Ukraina. Padahal, selama ini Trump berjanji akan mengakhiri perang di Ukraina.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyebut pelonggaran sanksi itu bukan keputusan yang tepat. Hal itu jelas tidak membantu perdamaian karena justru memperkuat posisi Rusia. Rusia sangat bergantung pada pendapatan minyak untuk biaya perang di Ukraina.

Warga tak mendukung

Di dalam negeri, ancaman politik bagi Trump tecermin dalam sejumlah jajak pendapat. Survei Reuters/Ipsos menunjukkan hanya 27 persen warga AS menyetujui serangan AS ke Iran. Sebaliknya, 43 persen menolak, sedangkan 29 persen tidak yakin. Survei yang sama juga menunjukkan 56 persen warga AS menilai Trump terlalu mudah menggunakan kekuatan militer.

Reuters juga mencatat tingkat dukungan terhadap Trump turun tipis menjadi 39 persen, satu poin lebih rendah dibandingkan survei pada 18-23 Februari. Penurunan itu didukung ketidakpuasan warga AS soal kenaikan harga bahan bakar dan ekonomi yang kian seret.

Hal serupa tecermin di survei Quinnipiac. Sebanyak 53 persen pemilih terdaftar menolak aksi militer AS terhadap Iran. Hanya empat dari 10 yang mendukung, sementara sekitar satu dari 10 belum menentukan sikap.

Jajak pendapat cepat The Washington Post dan CNN menunjukkan hasil sama. Hanya jajak pendapat Fox News yang memperlihatkan situasi lebih berimbang, yakni separuh pemilih terdaftar mendukung dan separuh lainnya menolak.

Sejumlah jajak pendapat juga menunjukkan mayoritas warga AS menilai pemerintahan Trump tidak memberikan penjelasan yang gamblang mengenai alasan serangan militer tersebut. Dalam survei Quinnipiac, sebanyak 55 persen pemilih menyatakan mereka tidak percaya Iran benar-benar menimbulkan ancaman militer mendesak terhadap AS sebelum perang dimulai.

Walau demikian, banyak warga tetap memandang Iran sebagai ancaman keamanan. Survei Fox News menemukan sekitar enam dari 10 pemilih terdaftar menilai Iran merupakan ancaman nyata bagi keamanan nasional AS. Hasil survei AP-NORC, sebelum serangan dimulai, sekitar separuh orang dewasa di AS sangat khawatir program nuklir Iran.

Namun, persepsi ancaman itu tidak otomatis berubah menjadi dukungan terhadap perang. Banyak warga AS justru khawatir perang membuat negara mereka kurang aman. Kekhawatiran yang sama muncul terhadap keselamatan personel militer AS.

MAGA terbelah

Di basis pendukung kuatnya, perang Iran mulai membelah gerakan Make America Great Again (MAGA) yang diinisiasi Trump. Sejumlah tokoh kanan, seperti Tucker Carlson dan Megyn Kelly, bahkan melontarkan kritik tajam terhadap Trump. Keduanya merupakan tokoh ikonik MAGA.

Meski begitu, Trump tetap bersikeras bahwa dialah pencipta gerakan MAGA dan gerakan itu akan mengikutinya ke mana pun, dalam isu apa pun.

Senator Republik, Rand Paul, memperingatkan, konflik Iran dapat berbalik menjadi bumerang politik bagi Partai Republik jika harga energi terus melonjak. ”Anda akan melihat pemilu yang buruk sekali bagi Partai Republik,” katanya merujuk ke Pemilu sela pada November.

Trump sendiri berusaha menenangkan pemilih yang terpukul oleh kenaikan biaya energi. Ketika ditanya pesan untuk warga yang merasa harga bensin terlalu mahal, ia menjanjikan harga turun dalam waktu dekat.

Sumber: kompas.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *