Kejutan terjadi pada dua laga beruntun dalam perempat final WTA 1000 Doha. Juara Australia Terbuka dan tiga kali juara turnamen tersebut tersingkir. Padahal, kedua petenis yang kalah itu adalah dua unggulan teratas di Doha.
Elena Rybakina (unggulan kedua) disingkirkan remaja Kanada, Victoria Mboko, pada pertandingan pertamanya setelah juara Australia Terbuka. Iga Swiatek (unggulan pertama) gagal ke semifinal yang selalu dicapainya dalam empat tahun terakhir.
Dalam pertandingan yang berlangsung 2 jam 23 menit di Lapangan Utama Khalifa International Tennis and Squash Complex, Doha, Qatar, Kamis (12/2/2026) malam waktu setempat atau Jumat (13/2/2026) dini hari waktu Indonesia tersebut, Mboko menjadi lawan pertama Rybakina setelah menjuarai Grand Slam Australia Terbuka di Melbourne, Australia, dua pekan lalu.
Petenis berusia 19 tahun itu mengalahkan Rybakina dengan skor 7-5, 4-6, 6-4.
Tepat sebelum Mboko melawan Rybakina, Swiatek berhadapan dengan Maria Sakkari. Laga ini menjadi ulangan pertemuan di tempat yang sama setahun lalu, tetapi dengan hasil berbeda. Sakkari membalas kekalahan pada 2025 dengan kemenangan 2-6, 6-4, 7-5.
Semifinal melawan Karolina Muchova, Jumat, menjadi yang pertama bagi Sakkari setelah WTA 500 Charleston pada April 2024. Adapun final terakhir petenis Yunani tersebut terjadi di WTA 1000 Indian Wells, sebulan sebelumnya, ketika kalah dari Swiatek.
Sakkari adalah kompetitor tangguh bagi petenis-petenis top, terutama pada rentang 2021-2023. Dia mencapai semifinal Perancis Terbuka dan Amerika Serikat Terbuka 2021, serta menjuarai WTA 1000 Guadalajara pada 2023. Posisi tertingginya dalam daftar peringkat dunia adalah urutan ketiga, yaitu pada 2022.
Namun, cedera bahu kanan, yang membuatnya mundur saat bertanding di babak pertama AS Terbuka 2024, membuat Sakkari kesulitan tampil dengan kemampuan terbaik. Pada 2025 perjalanan terjauhnya hanya babak keempat WTA 1000 Madrid. Lalu, pada tahun ini, statistik menang-kalahnya adalah 3-3 sebelum tampil di Doha.
”Sudah sangat lama sejak terakhir kali saya mendapat kemenangan besar. Saat Anda tidak bermain dengan baik, lalu peringkat dunia turun, Anda pasti meragukan diri sendiri dan menilai tak akan pernah mengalahkan petenis top dunia lagi. Jadi, ada banyak proses bagi saya untuk mencapai tahap ini,” tutur Sakkari yang saat ini menempati peringkat ke-52 dunia.
Salah satu momen ketika keraguan lebih dominan dalam dirinya adalah saat Sakkari bertemu Swiatek di WTA Doha 2025. Dia kalah 3-6, 2-6. ”Tahun lalu, saya sangat tidak percaya diri. Sekarang kondisinya jauh lebih baik,” katanya.
Momen comeback Sakkari itu memutus hasil baik Swiatek di Doha. Sejak debut pada 2020, petenis dengan enam gelar juara Grand Slam ini juara pada 2022-2024. Adalah Jelena Ostapenko yang menghentikan 17 kemenangan beruntun Swiatek di Doha.
Tahun ini, Ostapenko melangkah ke semifinal, yaitu untuk berhadapan dengan Mboko setelah mengalahkan Elisabetta Cocciaretto 7-5, 6-4. Cocciaretto adalah petenis yang menyingkirkan Cori Gauff pada babak kedua.
Mboko ”Si Pejuang”
Setelah hampir tersingkir pada babak ketiga, Mboko melanjutkan perjalanan ke semifinal. Dia bisa menyelamatkan diri ketika Mirra Andreeva, lawannya pada babak ketiga, mendapat match point, lalu memenangi perempat final. Dua babak tersebut berlangsung ketat, masing-masing lebih dari 2 jam.
Pertandingan melawan Ostapenko menjadi semifinal kedua Mboko pada turnamen berlevel WTA 1000 setelah dia menjadi juara di negara sendiri, Kanada, pada 2025. Di turnamen itu pula, Mboko mengalahkan Rybakina di fase semifinal.
”Sejak memasuki lapangan, saya tahu harus benar-benar berjuang. Elena baru saja menjuarai Australia Terbuka dan kami sudah tiga kali bertemu. Jadi, saya punya gambaran apa yang akan dihadapi,” kata Mboko.
Kunci dari penampilannya melawan petenis peringkat ketiga dunia tersebut ada pada pengembalian servis. Mboko puas bisa melakukannya dengan baik mengingat Rybakina adalah seorang big server.
”Dia adalah salah satu petenis dengan servis terbaik. Lebih mudah baginya untuk mempertahankan servis dibandingkan saya. Namun, saya mencoba untuk tidak terbebani dan itu membuahkan hasil baik. Saya pun cukup kaget,” ujar Mboko yang enam kali mematahkan servis Rybakina dari 12 kesempatan.
Semifinal nanti akan menjadi pertemuan pertama Mboko dan Ostapenko. Jika mereka tampil dengan kemampuan terbaik, pertandingan tersebut akan menjadi pertunjukan adu groundstroke keras.
Sejak awal dikenal di arena tenis profesional, lalu menjuarai Perancis Terbuka 2017, Ostapenko dikenal sebagai salah satu dari sedikit petenis dengan pukulan keras, dari forehand dan backhand.
Dia bisa melakukannya sepanjang pertandingan meski pukulan tersebut seringkali melahirkan unforced error. Mboko, yang sembilan tahun lebih muda daripada Ostapenko, memiliki karakter permainan serupa.
Sumber: kompas.id

