Mengenal virus Nipah yang merebak di India dan cara pencegahannya

Wabah virus Nipah melanda wilayah bagian Bengal Barat India.

Lima warga termasuk dokter dan perawat dinyatakan terpapar virus yang ditularkan oleh hewan, terutama kelelawar ini.

Dari lima orang yang terpapar virus Nipah, salah satunya dalam kondisi kritis dan tengah menjalani perawatan intensif.

Sementara itu sebanyak 100 orang lainnya menjalani karantina mandiri.

Penanganan pasien yang terpapar Virus Nipah ini dilakukan secara intensif.

Virus ini belum memiliki vaksin maupun obat khusus.

WHO pun sudah menetapkan virus Nipah sebagai patogen berisiko tinggi yang mematikan.

Mengenal Virus Nipah

Virus Nipah (NiV) adalah patogen zoonotik, artinya dapat menular dari hewan ke manusia.

Salah satu hewan yang menularkan virus  Nipah ini adalah kelelawar.

Biasanya penularan juga bisa melalui buah yang terkontaminasi.

WHO memasukkan Nipah sebagai virus berisiko tinggi karena potensi wabahnya dan tingkat kematian yang besar.

Gejala infeksi Nipah

Infeksi virus Nipah sering diawali dengan gejala yang tidak spesifik sehingga sulit dideteksi sejak dini.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), masa inkubasi umumnya berkisar antara empat hingga 21 hari, meskipun dalam kasus langka bisa lebih lama.

Pasien biasanya mengalami gejala mirip flu secara mendadak, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, dan kelelahan.

Beberapa penderita juga mengalami gangguan pernapasan seperti batuk, sesak napas, atau pneumonia, dengan tingkat keparahan yang bervariasi.

Komplikasi paling serius adalah peradangan otak (ensefalitis). 

Gejala neurologis seperti kebingungan, penurunan kesadaran, kejang, hingga koma bisa muncul beberapa hari hingga minggu setelah gejala awal. 

Sebagian pasien juga dapat mengalami meningitis.

Seberapa mematikan virus Nipah?

Virus Nipah memiliki tingkat kematian tinggi, yakni antara 40 hingga 75 persen tergantung pada wabah dan jenis strain virus yang terlibat.

Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UK Health Security Agency) menyebut para penyintas dapat mengalami dampak neurologis jangka panjang seperti kejang berulang atau perubahan kepribadian.

Dalam kasus langka, ensefalitis dilaporkan dapat kambuh berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun setelah infeksi awal, baik akibat kekambuhan maupun aktivasi kembali virus.

Bagaimana virus Nipah menyebar?

Menurut WHO, Nipah dapat menular dari hewan ke manusia dan juga antarmanusia. 

Pembawa alami utama virus ini adalah kelelawar buah dari genus Pteropus.

Manusia dapat terinfeksi melalui kontak langsung dengan kelelawar yang terinfeksi, hewan lain, atau dengan mengonsumsi makanan yang terkontaminasi air liur, urine, atau kotoran kelelawar.

Penularan dari manusia ke manusia juga telah dilaporkan, terutama melalui kontak dekat dengan cairan tubuh penderita.

WHO menegaskan, “Penularan virus Nipah dari manusia ke manusia juga telah dilaporkan di antara anggota keluarga dan perawat pasien yang terinfeksi.”

Di mana virus Nipah pertama kali ditemukan?

Virus Nipah pertama kali diidentifikasi pada 1999 saat terjadi wabah ensefalitis dan penyakit pernapasan di kalangan peternak babi di Malaysia dan Singapura. 

Sejak itu, wabah berulang tercatat di Asia Selatan.

Wilayah timur laut India dan sejumlah distrik di Bangladesh kerap melaporkan kasus, dengan Bangladesh mengalami wabah hampir setiap tahun sejak 2001.

Di India selatan, negara bagian Kerala pertama kali melaporkan wabah Nipah pada 2018, diikuti kasus sporadis pada tahun-tahun berikutnya.

Kasus infeksi juga pernah dilaporkan di Filipina, yang diduga disebabkan oleh virus Nipah atau strain serupa.

Studi ilmiah menemukan virus ini pada urine kelelawar di Malaysia, serta antibodi terhadap Nipah pada sedikitnya 23 spesies kelelawar di Asia dan sebagian Afrika, termasuk Ghana dan Madagaskar.

Meski reservoir hewan cukup luas, wabah pada manusia sejauh ini terbatas di Asia Selatan dan Asia Tenggara, terutama di daerah pedesaan atau semi-perkotaan dengan kemungkinan interaksi tinggi antara manusia, kelelawar, dan hewan ternak.

Apakah ada pengobatan atau vaksin?

Saat ini belum ada pengobatan spesifik yang terbukti efektif untuk infeksi Nipah, dan belum tersedia vaksin yang disetujui.

Perawatan pasien berfokus pada terapi suportif, yakni menangani gejala dan komplikasi yang muncul.

WHO memasukkan Nipah dalam daftar patogen prioritas dalam Cetak Biru Riset dan Pengembangan mereka, yang berarti virus ini dianggap sebagai ancaman epidemi yang memerlukan penelitian mendesak.

Cara mengurangi risiko infeksi Nipah

Tanpa vaksin, pencegahan menjadi kunci utama. 

Lembaga kesehatan global menyarankan langkah-langkah sederhana untuk mengurangi risiko paparan.

Mencegah penularan dari kelelawar ke manusia: 

  • Hindari mengonsumsi nira kurma mentah atau buah yang mungkin terkontaminasi kelelawar. 
  • Merebus nira kurma segar serta mencuci atau mengupas buah secara menyeluruh dapat menurunkan risiko.
  • Buah yang menunjukkan bekas gigitan kelelawar sebaiknya dibuang.

Mencegah penularan dari hewan ke manusia: 

  • Orang yang menangani hewan sakit atau jaringan hewan, termasuk saat penyembelihan, disarankan memakai sarung tangan dan pakaian pelindung. 
  • Kontak dengan babi yang terinfeksi harus diminimalkan, dan peternakan babi di wilayah dengan populasi kelelawar buah perlu melindungi pakan dan kandang dari kelelawar.

Mencegah penularan antarmanusia:

  • Hindari kontak dekat tanpa pelindung dengan penderita Nipah. 
  • Mencuci tangan secara rutin setelah merawat atau mengunjungi orang sakit sangat penting untuk mencegah penyebaran virus.

Sumber: tribunjogja.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *