Pemerintah Venezuela menegaskan akan mengelola sendiri negaranya dan tidak akan berada di bawah kendali Amerika Serikat. Caracas sempat ”melunak” dengan menyampaikan pesan kerja sama dan undangan kepada Washington.
Penegasan tersebut tersirat dalam upacara pengambilan sumpah Wakil Presiden Venezuela Delcy Roridguez sebagai Presiden sementara Venezuela, Senin (5/1/2026) waktu setempat atau Selasa (6/1/2026) waktu Indonesia. Ia dilantik oleh saudara laki-lakinya, Jorge Rodríguez, yang terpilih kembali sebagai Ketua Parlemen Venezuela.
Ia berupaya menunjukkan kepada rakyat Venezuela dan dunia bahwa negaranya akan berjalan secara independen. ”Saya datang dengan kesedihan atas penderitaan yang ditimbulkan pada rakyat Venezuela setelah agresi militer yang tidak sah terhadap tanah air kita,” kata Rodriguez sambil mengangkat tangan kanannya.
Rodriguez mendapat dukungan penuh dari parlemen dan militer Venezuela saat dilantik sebagai presiden sementara. Setelah Presiden Nicolas Maduro diambil paksa dari kediamannya di Caracas, Sabtu (3/1/2025), dan dibawa ke AS, ia langsung menetapkan keadaan darurat nasional. Ia juga menegaskan bahwa Maduro tetap Presiden Venezuela.
Pernyataan Rodriguez senada dengan Menteri Dalam Negeri Diosdado Cabello. ”Di sini, persatuan kekuatan revolusioner lebih dari terjamin, dan di sini hanya ada satu presiden, namanya Nicolas Maduro Moros. Jangan sampai ada yang terpancing oleh provokasi musuh,” kata Cabello dalam rekaman audio yang dirilis oleh partai sosialis PSUV yang berkuasa, Minggu.
Dalam pelantikan Rodriguez, para anggota parlemen Venezuela pun menyampaikan pidato yang berfokus pada kecaman atas penangkapan Maduro oleh pasukan AS. ”Rodriguez akan mengambil setiap langkah besar untuk membawa kembali (ke Venezuela) orang-orang yang paling berani, Nicolás Maduro Moros, dan ibu negara kita, Cilia Flores,” kata anggota parlemen Venezuela, Grecia Colmenares, sebelum pengambilan sumpah.
Sementara Rodriguez secara terbuka membantah klaim Presiden AS Donald Trump bahwa ia bersedia bekerja sama dengan AS. Pada Minggu, Rodriguez menyatakan Venezuela berupaya menjalin ”hubungan yang saling menghormati” dengan AS. Pernyataan itu dinilai sebagai sikap melunak Rodriguez karena menghadapi ancaman serangan lanjutan.
”Kami mengundang Pemerintah AS untuk berkolaborasi dengan kami dalam agenda kerja sama yang berorientasi pada pembangunan bersama dalam kerangka hukum internasional untuk memperkuat kehidupan bersama yang berkelanjutan,” tutur Rodríguez.
Trump dalam wawancara dengan majalah The Atlantic mengatakan, Rodriguez mungkin akan membayar harga yang lebih mahal daripada Maduro jika dia tidak melakukan apa yang benar.
Kementerian Komunikasi Venezuela belum memberikan konfirmasi kepada Reuters terkait pernyataan Trump.
Protes rakyat
Saat pengambilan sumpah Rodriguez berlangsung, di luar gedung parlemen ribuan warga Venezuela berkumpul. Mereka menggelar aksi menuntut pembebasan Maduro. Mereka meneriakkan kata-kata seperti ”Maduro, bertahanlah, Venezuela bangkit!”
”Terlepas dari apakah Nicolas Maduro memiliki sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan di pengadilan, ini bukanlah cara yang tepat untuk melakukannya,” kata Flur Alberto (32), salah satu demonstran.
Nicolás Maduro Guerra, putra Maduro, tampil untuk pertama kali di depan publik sejak ayahnya ditangkap pasukan AS. ”Jika kita menormalisasi penculikan kepala negara, tidak ada negara yang aman. Hari ini, Venezuela. Besok, bisa jadi negara mana pun yang menolak untuk tunduk,” katanya.
”Ini bukan masalah regional. Ini ancaman langsung terhadap stabilitas politik global,” ujar Maduro Guerra, yang dikenal dengan panggilan Nicolasito.
Sama halnya dengan tuntutan para pengunjuk rasa, Nicolasito menuntut agar ayah dan ibu tirinya, Cilia Flores, dikembalikan ke Venezuela. Ia menyerukan dukungan internasional.
Nicolasito, satu-satunya putra Maduro, disebut-sebut sebagai kaki tangan dalam dakwaan pengadilan federal AS atas ayahnya. Ia mengecam dakwaan itu.
Saat pengambilan sumpah Presiden sementara Venezuela, Maduro hadir dalam persidangan pertama di pengadilan federal di New York, AS. Ia dituduh terlibat narkoterorisme atau terorisme narkoba. Alasan itulah yang digunakan pemerintahan Trump untuk membenarkan penangkapan Maduro.
Di pengadilan, Maduro menyatakan dirinya tidak bersalah dan tetap sebagai Presiden Venezuela.
Meski Venezuela sudah memiliki presiden sementara, sesuai konstitusi, negara tersebut mensyaratkan pemilihan umum dalam 30 hari saat presiden tidak dapat menjalankan tugas secara permanen. Namun, Mahkamah Agung menyatakan ketidakhadiran Maduro bersifat ”sementara”.
Dalam skenario seperti itu, wakil presiden yang menjadi presiden sementara bisa mengambil alih hingga 90 hari. Periode ini dapat diperpanjang hingga enam bulan dengan dukungan dari Majelis Nasional.
Mahkamah Agung tidak menyebutkan batasan waktu kepemimpinan Rodriguez. Hal itu membuat beberapa pihak berspekulasi bahwa Rodriguez dapat mencoba untuk tetap berkuasa lebih lama lagi.
Sumber: kompas.id

