Tersangka penembakan dua anggota Garda Nasional di Washington DC pada Rabu diketahui pernah bekerja sama dengan unit militer yang didukung CIA selama perang AS di Afghanistan. Demikian dikonfirmasi oleh badan intelijen tersebut seperti dilansir the Guardian, Kamis.
Terduga penembak yang diidentifikasi sebagai Rahmanullah Lakanwal, 29 tahun, datang ke AS pada September 2021 di bawah program Operasi Allies Welcome. Program ini memberikan visa masuk kepada beberapa warga Afghanistan yang pernah bekerja untuk pemerintah AS.
“Ia diberikan suaka pada bulan April tahun ini, di bawah pemerintahan Trump,” lapor Reuters.
Keterkaitan Lakanwal dengan Badan Intelijen Pusat (CIA), yang bekerja sama dengan pasukan khusus AS di Afghanistan, dikonfirmasi oleh direktur CIA, John Ratcliffe, kepada sejumlah media.
The New York Times melaporkan bahwa tersangka penembakan tersebut pernah bekerja untuk beberapa badan pemerintah AS di Afghanistan, termasuk unit-unit yang didukung CIA di provinsi selatan Kandahar, basis Taliban.
The Washington Post, mengutip sumber anonim, mengatakan bahwa unit-unit yang didukung CIA tersebut termasuk regu kontraterorisme yang dikenal sebagai ‘zero unit’, yang terlibat dalam misi tempur untuk menangkap atau membunuh tersangka teroris.
“Pemerintahan Biden membenarkan membawa tersangka penembakan ke Amerika Serikat pada September 2021 karena pengalamannya sebelumnya dengan pemerintah AS, termasuk CIA,” kata Ratcliffe kepada Fox News Digital.
Keterlibatan Lakanwal dengan badan tersebut adalah sebagai anggota pasukan mitra di Kandahar yang berakhir tak lama setelah evakuasi yang kacau.
Dua anggota garda yang terluka diidentifikasi sebagai Sarah Beckstrom, 20 tahun, dan Andrew Wolfe, 24 tahun. Keduanya adalah anggota Garda Nasional Virginia Barat dan tercatat dalam kondisi kritis.
Mereka berdua baru saja dilantik untuk bertugas kurang dari 24 jam sebelum disergap di halte bus oleh tersangka.
Ayah Beckstrom mengatakan kepada New York Times melalui telepon bahwa putrinya kemungkinan besar tidak akan pulih. “Saya sedang memegang tangannya sekarang,” kata Gary Beckstrom. “Dia menderita luka yang parah. Pemulihannya tidak akan mudah.”
Seorang pria yang dihubungi di rumah keluarga Wolfe mengatakan kepada seorang reporter di kantor berita. “Yang kami butuhkan saat ini hanyalah doa untuk putra saya.”
Jeanine Pirro, jaksa AS untuk Washington DC, mengatakan dalam konferensi pers hari Kamis bahwa tersangka telah menggunakan revolver Smith & Wesson kaliber .357, menembak seorang anggota penjaga dua kali sebelum berbalik menembak yang kedua.
Ia mengatakan dua anggota Garda Nasional yang terluka telah mempertaruhkan nyawa mereka untuk melindungi orang-orang yang bahkan tidak mereka kenal.
“Anggota Garda Nasional lainnya di lokasi kejadian telah menyerang dan melumpuhkan tersangka,” ujarnya.
Tersangka ditahan dan dirawat di rumah sakit.
Jaksa penuntut mengatakan Lakanwal akan didakwa dengan tiga tuduhan penyerangan dengan niat membunuh saat bersenjata dan kepemilikan senjata api dalam kejahatan kekerasan.
Pirro mengatakan bahwa jika anggota Garda Nasional tidak selamat, maka dakwaan dapat ditingkatkan menjadi pembunuhan tingkat pertama.
Direktur FBI, Kash Patel, mengatakan dalam konferensi pers bahwa lembaga tersebut sedang menyelidiki penembakan tersebut sebagai tindakan terorisme. Lembaga penegak hukum telah mengeluarkan surat perintah penggeledahan di rumah tersangka di Washington dan di San Diego, California.
“Ini adalah investigasi lintas batas negara,” kata Patel.
Wali Kota Washington, Muriel Bowser, yang mengkritik pengerahan pasukan garda nasional oleh pemerintahan Trump di distrik tersebut, mengatakan, “Anak-anak muda ini seharusnya berada di rumah di Virginia Barat bersama keluarga mereka.”
Patel juga mengonfirmasi hubungan tersangka dengan pasukan AS di Afghanistan. Investigasi, katanya, akan mencakup semua rekan tersangka yang diketahui di luar negeri dan di AS.
Setelah penembakan tersebut, Donald Trump memerintahkan 500 pasukan Garda Nasional tambahan ke Washington DC.
Ia segera menyalahkan pemerintahan Biden atas penembakan tersebut. Trump menuduhnya gagal memeriksa migran dari Afghanistan dengan benar.
Presiden AS itu juga mengisyaratkan bahwa ia menganggap serangan tersebut sebagai pembenaran untuk peninjauan menyeluruh terhadap aplikasi suaka dan kartu hijau.
“Kita sekarang harus memeriksa ulang setiap orang asing yang telah memasuki negara kita dari Afghanistan di bawah Biden, dan kita harus mengambil semua langkah yang diperlukan untuk memastikan pengusiran setiap orang asing dari negara mana pun yang tidak pantas berada di sini, atau menambah manfaat bagi negara kita,” kata Trump pada hari Rabu.
“Jika mereka tidak bisa mencintai negara kita, kita tidak menginginkan mereka.”
Para pemimpin beberapa lembaga federal telah menjanjikan peninjauan. Layanan Kewarganegaraan dan Imigrasi AS (USCIS) mengatakan bahwa mereka telah berhenti memproses aplikasi tempat tinggal dari warga negara Afghanistan.
“Mulai saat ini, pemrosesan semua permintaan imigrasi terkait warga negara Afghanistan dihentikan tanpa batas waktu sambil menunggu peninjauan lebih lanjut terkait protokol keamanan dan pemeriksaan,” demikian pernyataan USCIS di media sosial.
Sementara itu, Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) mengatakan bahwa pemerintah memperluas peninjauan tersebut dengan mencakup peninjauan semua kasus suaka yang disetujui di bawah pemerintahan Biden.
Direktur USCIS, Joseph Edlow, kemudian menambahkan bahwa ia juga mengarahkan pemeriksaan ulang menyeluruh dan ketat terhadap setiap kartu hijau bagi setiap warga negara asing dari negara yang menjadi perhatian atas permintaan Trump. Ketika ditanya negara mana yang dianggap “menjadi perhatian”? USCIS merujuk pada perintah eksekutif Trump yang membatasi masuknya warga negara dari 19 negara ke AS.
Sumber: republika.co.id

